Tompul, Tompul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tanggung Jawab Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Agama Kristen di SMKN 2 Manokwari Tompul, Tompul
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v4i1.97

Abstract

Guru memiliki peran yang sangat penting di dalam membentuk karakter serta meningkatkan minat belajar siswa, termasuk di dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Namun, pada kenyataannya, cukup banyak siswa di SMKN 2 Manokwari yang masih saja kurang begitu antusias dalam mengikuti pelajaran ini. Oleh karena itu, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis tanggung jawab seorang guru dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMKN 2 Manokwari serta berupaya mencari strategi yang dinilai sangat efektif untuk dapat mencapainya. Riset ini memakai metode kualitatif memakai pendekatan yang deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan guru PAK dan observasi di kelas. Selain itu, data diperoleh melalui angket kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki tanggung jawab tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing rohani yang mampu menginspirasi para siswa dalam memahami nilai-nilai kekristenan. Beberapa strategi yang telah digunakan guru dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa meliputi penggunaan berbagai metode pembelajaran yang jauh lebih interaktif, pendekatan yang lebih personal kepada setiap siswa, serta integrasi berbagai nilai-nilai kehidupan yang relevan dalam pengajaran. Faktor seperti keteladanan guru dan suasana kelas yang kondusif berperan penting. Keterlibatan orang tua beserta komunitas juga berperan dalam meningkatkan minat siswa terhadap PAK. Dengan menerapkan berbagai metode yang tepat dan benar-benar memahami semua kebutuhan siswa, sangat diharapkan minat belajar Pendidikan Agama Kristen dapat meningkat secara signifikan, sehingga tidak hanya berdampak besar pada pemahaman akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa yang jauh lebih baik.
Menemukan Harapan di Tengah Keputusasaan: Tanggapan Pendidikan Agama Kristen terhadap Kasus Bunuh Diri Tompul, Tompul
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v4i2.139

Abstract

Bunuh diri merupakan fenomena multidimensional yang mencerminkan krisis eksistensial, psikologis, dan spiritual yang mendalam. Meningkatnya kasus bunuh diri, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, menandakan urgensi pendekatan yang tidak hanya bersifat medis atau psikologis, tetapi juga spiritual dan pastoral. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara kritis peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam memberikan tanggapan konstruktif terhadap krisis keputusasaan yang berujung pada tindakan bunuh diri. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara terbatas terhadap praktisi pendidikan dan konselor pastoral, penelitian ini mengidentifikasi berbagai faktor pemicu keputusasaan, seperti hilangnya makna hidup, tekanan sosial, trauma masa lalu, serta kurangnya dukungan spiritual. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa PAK memiliki potensi besar dalam membangun ketahanan spiritual (spiritual resilience), menanamkan nilai-nilai kasih dan pengharapan, serta menghadirkan ruang dialogis yang aman bagi peserta didik untuk mengungkapkan beban hidupnya. Lebih dari sekadar penyampaian doktrin, PAK dapat menjadi agen penyembuhan batin melalui pendekatan holistik yang menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan spiritual. Dalam terang iman Kristen, penderitaan bukan akhir dari segalanya, melainkan dapat menjadi medium pembentukan karakter dan perjumpaan dengan kasih Allah. Dengan demikian, PAK diposisikan bukan hanya sebagai instrumen edukatif, melainkan sebagai sarana pastoral yang menghidupkan harapan di tengah keputusasaan. Rekomendasi praktis diarahkan pada pentingnya pelatihan guru PAK dalam bidang konseling rohani, integrasi kurikulum yang responsif terhadap isu kesehatan mental, dan kolaborasi antara sekolah, gereja, dan keluarga sebagai ekosistem pemulihan.