Terapi diabetes melitus (DM) mencakup penggunaan obat farmakologis dan obat herbal yang memiliki keamanan lebih baik, biaya lebih terjangkau, serta risiko efek samping yang lebih rendah. Permasalahan utama dalam pengelolaan DM adalah kebutuhan akan alternatif terapi yang efektif dan aman dari sumber alami, mengingat tingginya prevalensi DM dan keterbatasan terapi konvensional. Mangga gedong gincu (Mangifera indica var. gedong gincu) mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, dan triterpene yang berpotensi sebagai antidiabetes, namun penelitian mendalam mengenai aktivitas antidiabetes ekstrak kulit mangga gedong gincu masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas ekstrak kulit mangga gedong gincu dalam menurunkan kadar gula darah pada tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi streptozotocin dan menentukan dosis optimal yang paling efektif. Metode penelitian menggunakan desain eksperimental pre and post test with control group design dengan 24 ekor tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang dibagi menjadi 4 kelompok: kontrol negatif (hanya diinduksi STZ), dan 3 kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak 75 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB. Induksi diabetes dilakukan menggunakan streptozotocin 40 mg/kgBB secara intraperitoneal, dilanjutkan pemberian ekstrak selama 14 hari. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene test, T-test berpasangan, dan One Way ANOVA dengan post hoc LSD. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit mangga gedong gincu secara signifikan menurunkan kadar gula darah pada semua kelompok perlakuan dibandingkan kontrol negatif. Dosis 300 mg/kgBB menunjukkan efektivitas paling tinggi dengan rata-rata kadar gula darah post-treatment 87,8 mg/dL dibandingkan kelompok kontrol 158,6 mg/dL. Penurunan kadar gula darah berbanding lurus dengan peningkatan dosis yang diberikan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit mangga gedong gincu berpotensi sebagai terapi adjuvan alami untuk pengelolaan diabetes mellitus, dengan dosis 300 mg/kgBB sebagai dosis optimal, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk evaluasi keamanan jangka panjang dan mekanisme kerja pada tingkat molekuler.