Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Pengetahuan Ibu Balita Mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Bagian Atas Di Klinik Pera Tahun 2025 Indra Hizkia P; Magda Siringoringo; Novelin Tarismawati Laia
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3717

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, khususnya pada populasi rentan seperti balita. Data WHO menunjukkan prevalensi ISPA pada balita mencapai 42,91%, sementara di Indonesia angka prevalensi mencapai 25,4%. Peran pengetahuan ibu sangat krusial dalam upaya pencegahan dan penanganan ISPA pada balita, namun masih terdapat keterbatasan pemahaman yang dapat mempengaruhi keberhasilan pencegahan penyakit ini.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu balita mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Bagian Atas di Klinik Pera tahun 2025, meliputi aspek definisi, cara penularan, tanda gejala, faktor risiko, dan upaya pencegahan ISPA.Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Populasi penelitian adalah ibu balita yang berkunjung ke Klinik Pera berjumlah 47 responden dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang terdiri dari 13 pernyataan dengan kategorisasi baik (80-100%), cukup (60-79%), dan kurang (<60%).Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan baik mengenai ISPA sebanyak 32 orang (68,1%) dan pengetahuan cukup sebanyak 15 orang (31,9%). Berdasarkan aspek pengetahuan, pemahaman tertinggi pada faktor risiko (89,4%), diikuti definisi ISPA (85,1%), penularan (83,0%), tanda gejala (80,9%), sedangkan aspek pencegahan menunjukkan persentase terendah (68,1%).Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu balita mengenai ISPA di Klinik Pera tergolong baik, namun masih diperlukan program edukasi berkelanjutan khususnya pada aspek pencegahan untuk meningkatkan kemampuan ibu dalam menerapkan upaya pencegahan ISPA secara optimal pada balita.
Gambaran Komunikasi Terapeutik Antara Perawat Dengan Pasien Di Ruangan Santa Melania Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2025 Indra Hizkia P; Magda Siringoringo; Lola Jesika Violentri simamora
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4816

Abstract

Komunikasi terapeutik merupakan elemen fundamental dalam praktik keperawatan yang memiliki peran strategis dalam keberhasilan proses penyembuhan pasien. Meskipun pentingnya komunikasi terapeutik telah diakui secara luas, realitas di lapangan menunjukkan masih terdapat kesenjangan signifikan dalam implementasinya. Penelitian menunjukkan bahwa 47,8% perawat memiliki komunikasi terapeutik kurang baik, dan permasalahan komunikasi terapeutik bersifat multidimensional yang melibatkan berbagai faktor kompleks. Komunikasi terapeutik dalam praktik keperawatan melibatkan tiga tahapan krusial yaitu tahap orientasi, tahap kerja, dan tahap terminasi yang masing-masing memiliki karakteristik dan tujuan spesifik dalam mendukung proses penyembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran komunikasi terapeutik antara perawat dengan pasien di Ruangan Santa Melania Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2025, khususnya dalam mengidentifikasi ketiga tahapan komunikasi terapeutik tersebut. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner komunikasi terapeutik yang diadopsi dari penelitian Felina (2020) yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, mencakup 20 pernyataan yang terdiri dari 9 pernyataan tahap orientasi, 7 pernyataan tahap kerja, dan 4 pernyataan tahap terminasi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner langsung oleh responden selama tanggal 21-30 Mei 2025. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi terapeutik pada tahap orientasi berada dalam kategori baik (90,0%), tahap kerja dalam kategori baik (87,0%), dan tahap terminasi dalam kategori baik (63,0%). Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berusia 41-60 tahun (33%), berjenis kelamin perempuan (60%), berpendidikan SMA/SMK (57%), dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga (23%). Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa implementasi komunikasi terapeutik pada ketiga tahapan telah berjalan baik, namun masih terdapat ruang perbaikan khususnya dalam aspek perkenalan diri pada tahap orientasi dan pembuatan kontrak waktu pada tahap terminasi untuk meningkatkan kualitas layanan keperawatan yang lebih optimal dan profesional.