Ginting, Elsa Novitra
Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Indonesia Timur Di Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Etika Kerja dalam Amsal 14:23: Sebuah Analisis Hermeneutik dalam Perspektif Utilitarianisme John Stuart Mill Ginting, Elsa Novitra
Antropocene : Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/antropocene.v5i2.3643

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh situasi yang mengutamakan pentingnya etika kerja dalam kitab suci terutama Amsal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara etos kerja dalam Amsal 14:23 dan teori utilitarianisme John Stuart Mill, menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka sebagai teknik utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika interdisipliner. Penulis menyandingkan teks teologis kuno dengan etika filosofis modern. Hasilnya, penulis menemukan bahwa prinsip “jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan” dapat dipahami sebagai prinsip etis universal yang berfokus pada konsekuensi positif dari tindakan produktif. “Keuntungan” yang dimaksud diartikan tidak hanya sebagai berkat materi pribadi, tetapi juga sebagai kontribusi pada kesejahteraan kolektif, yang merupakan inti dari prinsip utilitarian. Dengan demikian, kerja keras, yang dalam Alkitab adalah panggilan ilahi dan wujud ketaatan, secara etis dapat dibenarkan karena hasilnya tidak hanya memberkati individu tetapi juga menciptakan manfaat terbesar bagi banyak orang, menunjukkan adanya sinergi harmonis antara nilai-nilai teologis dan etika modern.
Teologi Sangserekan sebagai Basis Persahabatan Universal Manusia Toraja Alvary Exan Rerung; Elsa Novitra Ginting
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas konsep persahabatan universal yang jarang didiskusikan dalam teologi Kristen di Indonesia, padahal relasi ini mencakup hubungan manusia dengan sesama dan alam. Masifnya krisis ekologi dan konflik sosial di Toraja—seperti longsor akibat pengelolaan lahan yang tidak bertanggung jawab dan kasus pembunuhan saat upacara adat—menegaskan pentingnya menggaungkan konsep persahabatan universal di sana. Penelitian ini bertujuan membangun teologi lokal-konstruktif, yang disebut teologi Sangserekan, dari falsafah hidup Toraja untuk dijadikan basis persahabatan universal. Metode yang digunakan adalah studi literatur, dengan tahapan memilih literatur, pembacaan dan pencatatan, pengelompokan variabel, dan penulisan. Variabel yang dikerjakan meliputi rancang bangun teologi lokal Robert J. Schreiter, falsafah Sangserekan, penafsiran Kejadian 2:15, dan konstruksi teologi Sangserekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa falsafah Sangserekan menolak antroposentrisme dan melihat semua ciptaan (Lolo Tau, Lolo Patuan, Lolo Tananan) setara. Konsep ini selaras dengan mandat Kejadian 2:15 untuk "mengusahakan" (abad) dan "memelihara" (shamar) Taman Eden, yang dimaknai sebagai tanggung jawab dan wujud ibadah. Oleh karena itu, teologi Sangserekan menjadi lensa konstruktif bagi manusia Toraja untuk menjalankan panggilan luhur membangun relasi yang harmonis dengan sesama dan alam.
PEMETAAN KARAKTERIRSTIK KEPEMIMPINAN PEMUDA GEREJA DI KOTA MAKASSAR DENGAN PENDEKATAN TRAIT THEORY Elsa Novitra Ginting; Jerda Djawa; Rut Enjelika Br Tarigan
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 2 (2026): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i2.658

Abstract

Youth are the next generation of the nation who need to be well prepared to become agents of peace and future leaders. The city of Makassar is a multicultural area and is therefore vulnerable to potential friction among social groups if diversity is not managed properly. This condition constitutes the urgency of the present study, namely, to enable church youth to play a strategic role in mitigating potential conflicts and in building bridges of fraternity by developing an appropriate model of self-leadership. This research is important for fostering awareness of the significance of diversity within a multicultural society, so that opportunities for tension and conflict can be minimized. This study aims to develop a leadership model based on Trait Theory in order to enhance the role of church youth in the city of Makassar. Using a qualitative approach, data were collected through interviews and observations of church youth. The findings indicate the existence of two types of leadership characteristics among church youth in Makassar. It is expected that this research will contribute to the development of church youth leadership in Makassar in responding to the challenges of diversity.