The “Literacy Movement” program aims to reduce illiteracy rates in Katangka Village through a collaborative approach involving universities, local communities, and community leaders. The novelty of this program lies in the application of andragogy and contextual learning methods specifically designed for adults and the elderly. The implementation included surveys, module development, facilitator training, literacy classes, and evaluation. Out of 40 participants, 33 (82.5%) showed significant improvement in basic reading and writing skills. In addition, participants experienced increased self-confidence and social engagement. This program demonstrates that a contextual and community-based collaborative learning model is effective in combating illiteracy and can be replicated in other regions.ABSTRAKProgram “Gerakan Melek Aksara” bertujuan menurunkan angka buta huruf di Desa Katangka melalui pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, masyarakat lokal, dan tokoh masyarakat. Nilai kebaruan program ini terletak pada penerapan metode andragogi dan pembelajaran kontekstual yang dirancang khusus untuk warga dewasa dan lansia. Metode pelaksanaan mencakup survei, penyusunan modul, pelatihan fasilitator, kelas literasi, serta evaluasi. Dari 40 peserta, 33 orang (82,5%) menunjukkan peningkatan kemampuan membaca dan menulis dasar. Selain itu, peserta mengalami peningkatan rasa percaya diri dan keterlibatan sosial. Program ini membuktikan bahwa model pembelajaran berbasis komunitas yang kontekstual dan kolaboratif efektif memberantas buta huruf dan dapat direplikasi di wilayah lain.