Anak tunagrahita-tunaganda mempunyai kondisi gangguan intelektual yang dikombinasikan dengan keterbatasan lainnya, sehingga memerlukan adanya pendidikan khusus yang mendukung perkembangan mereka. Namun, hanya 7,5% anak berkebutuhan khusus di Indonesia yang mendapatkan akses pendidikan formal. Maka dari itu, diperlukan adanya Sekolah Luar Biasa yang dapat memenuhi kebutuhan anak tunagrahita-tunaganda dalam hal pemenuhan kebutuhan karakter, aksesibilitas secara horizontal dan vertikal, serta kebutuhan untuk menciptakan ruang berekspresi dan pengembangan yang optimal. Metode desain menggunakan metode empiris melalui observasi langsung pada lima subjek anak tunagrahita- tunaganda di SLB Putra Jaya dan SLB Sathithen. Observasi dilakukan terhadap aktivitas, karakteristik pengguna, dan kondisi ruang eksisting. Pendekatan desain menggunakan prinsip desain inklusif CABE yang meliputi kesetaraan penggunaan, fleksibilitas, kesederhanaan, informasi yang jelas, toleransi terhadap kesalahan, upaya fisik rendah, serta ukuran dan ruang yang tepat. Hasil observasi menunjukkan tiga permasalahan utama: kecenderungan distraksi, perilaku pasif, dan keterbatasan aksesibilitas. Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan tiga konsep desain utama: desain minim distraksi melalui zonasi fokus (tinggi, sedang, rendah) dan penerapan strategi separasi-barrier-orientasi, desain ruang aksesibel dengan mempertimbangkan aksesibilitas seluruh pengguna (tunagrahita, tunanetra, dan tunadaksa), serta desain untuk semua yang mempertimbangkan kebutuhan ruang dengan menerapkan aspek-aspek desain inklusif (aksesibilitas, layout ruang, sirkulasi, signage, pencahayaan, penghawaan, material, warna, kontras visual, dan akustik). Kata kunci: Sekolah Luar Biasa, Tunagrahita-Tunaganda, Desain Inklusif