Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

“Because My Life Is Empty If There’s No Tiktok”: Studi Fenomenologi Terhadap Globalisasi Dan Pergerakan Modernisasi Melalui Budaya Demam Tiktok Pada Generasi Z Fathya Shafa Diani; Rizky Firnanda
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2025): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laju globalisasi saat ini dipercepat dengan kemajuan teknologi komunikasi, dimana internet menjadi bagian penting dari proses interaksi dan komunikasi suatu individu. Adanya perkembangan teknologi dapat memudahkan setiap individu untuk mengakses media sosial hanya dengan menggunakan smartphone dan internet. Salah satu aplikasi yang paling banyak digandrungi oleh anak muda saat ini yaitu Tik Tok. TikTok merupakan sebuah platform video musik yang menjadi salah satu aplikasi yang banyak diinstal oleh generasi Z, dimana penggunanya dapat membuat video musik pendek dengan aplikasi tersebut. Peneliti ingin melihat bagaimana laju perkembangan globalisasi dan pergerakan modernisasi yang memberikan pengaruh terhadap perilaku dari fenomena demam Tik Tok yang sedang melanda generasi Z saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data yang dilakukan secara wawancara berbentuk FGD atau Focus Group Discussion kepada lima narasumber. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh informasi terkait munculnya fenomena demam Tik Tok yang menjadi salah satu perkembangan globalisasi dan pergerakan modernisasi yang tampak pada generasi Z saat ini. Akan tetapi, diketahui bahwa pergerakan modernisasi pada generasi Z bukan semata-mata dipengaruhi oleh aplikasi Tik Tok itu sendiri. Hal ini disebabkan karena globalisasi maupun pergerakan modernisasi yang terjadi merupakan hal yang bersifat umum dari perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Integritas dan Anti-Korupsi: Telaah Pemikiran dan Praktik Kenegaraan Denny Indrayana dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam Rizky Firnanda; Muhammad Ahsan Sachrawi; Annisa Nur Asyiah; Fathya Shafa Diani
YASIN Vol 6 No 5 (2026): YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i5.11764

Abstract

Character education based on integrity and anti-corruption values is an urgent necessity amid the continued prevalence of corrupt practices across various sectors of life. This condition underscores the importance of strengthening students’ character through education that instills honesty, responsibility, and moral awareness from an early age. This study aimed to analyze Denny Indrayana’s ideas and state governance practices concerning integrity and anti-corruption values and their relevance to Islamic Religious Education (PAI). This study employed a qualitative approach using the literature review method. Data were obtained from books, scholarly journals, articles, and works by Denny Indrayana addressing integrity, law enforcement, good governance, and corruption eradication. The data were analyzed descriptively and analytically through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that Denny Indrayana’s ideas position integrity, honesty, accountability, transparency, and moral courage as the principal foundations for realizing clean and corruption-free governance. These values are strongly relevant to the principles of PAI, namely trustworthiness, sidq (honesty), justice, responsibility, and ihsan. This alignment indicates that integrity and anti-corruption values can be internalized through PAI instruction to develop students who possess ethical character and moral commitment. This study concludes that Denny Indrayana’s ideas are relevant as a conceptual foundation for developing character education based on integrity and anti-corruption values. Integrating these values into PAI instruction has implications for strengthening a sustainable anti-corruption culture in educational settings and society.