Mohammed Arkoun di dalam teori pemikirannya menggunakan metodologi berbagai ilmu sosial, sejarah, politik, psikologi, sosiologi, mitologi, filsafat, semiotika, linguistik, untuk meninjau naskah-naskah keagamaan klasik. Menurutnya tidak ada “konsepsi” keberagamaan yang terlepas dari pertautan “Bahasa-Pemikiran-Sejarah” maka dimungkinkan adanya kritik terhadap pemikiran, pluralitas pemahaman, autentisitas dan dinamika pemikiran, kontekstualisasi ajaran, dan juga salah satu ide penting dari Arkoun adalah hermeneutika al-Quran dengan pendekatan teori semiotika dan fakta literatur yang mempelajari tentang Mohamed Arkounsecara , sehingga ini menjadi tujuan dari penulis untuk menelitinya lebih lanjut dalam pembahasan. Jenis penelitian ini kualitatif dengan pendekatan library research yang berupaya menemukan teori hermeneutika semiotic. Objek material dalam penelitian ini adalah literatur-literatur tentang Muhammad Arkoun. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu literature yang berkaitan dengan Arkoun. Objek formal digunakan dalam tulisan ini menggunakan konsep-konsep semiotika al-Quran. Hasil pembahasan dalam penelitian ini bahwa dalam penafsiran teks - teks agama, Arkoun melihat keterkaitan antara dimensi bahasa, pemikiran, dan sejarah. Sehingga seyogyanya perlu dilakukan penafsiran secara hermeunetis. Sebagaimana Arkoun menggunakan teori - teori sosial sebagai metode analisisnya seperti mitos (Ricoeur), wacana (discourse) dan episteme yang dikembangkan Focoult, Langue dan Parole oleh Saussure serta dekonstruksi Derrida dalam membaca teks al-Quran. Arkoun juga menawarkan konsep “Islamologi Terapan” yaitu dengan sadar menggunakan berbagai metode dan ilmu sosial yang modern untuk memahami, mencermati dalam menganalisis konstruksi keilmuan dan pemikiran keagamaan Islam secara lebih mendasar. Pemikiran Arkoun lebih bercorak historis, yaitu bentuk analisis terhadap struktur konstruksi keilmuan agama sangat erat hubungannya dengan sosio - historis tatkala keilmuan itu dibangun.