Ilmu dalam perspektif Islam tidak sekadar dipahami sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kesadaran spiritual dan moralitas. Al-Qur’an menegaskan pentingnya ilmu melalui fungsinya sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda, yang hanya dapat diwujudkan apabila manusia mengoptimalkan potensi intelektual dan spiritualnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji hakikat ilmu dalam al-Qur’an dengan menyoroti tiga dimensi utama, yakni epistemologis (bagaimana ilmu diperoleh), spiritual (peran hati dan kesadaran batin), dan moral (implikasi ilmu terhadap akhlak dan perilaku). Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, di mana sumber primer berupa ayat-ayat al-Qur’an (Q.S. Al-Mujādalah [58]:11, Ṭāhā [20]:114, An-Naml [27]:15, dan Al-Qaṣaṣ [28]:14), serta sumber sekunder berasal dari artikel ilmiah terpublikasi sepuluh tahun terakhir yang relevan. Analisis data dilakukan melalui analisis isi dengan menafsirkan makna dan relevansinya terhadap kajian ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an memandang ilmu sebagai entitas integral: diperoleh melalui usaha intelektual, diiringi dengan kesadaran spiritual, dan diwujudkan dalam perilaku moral. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis literatur kontemporer dengan analisis ayat-ayat al-Qur’an, yang menawarkan paradigma ilmu Qur’ani yang komprehensif dan menolak reduksionisme rasionalistik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan epistemologi Islam serta menjadi rujukan bagi pendidikan Islam yang holistik, melahirkan insan berilmu, berakhlak, dan berkesadaran ilahiah