Pendahuluan: Kecenderungan bunuh diri di kalangan mahasiswa kedokteran, khususnya yang menjalani program residensi ilmu bedah, bisa disebabkan tekanan dan tantangan yang dihadapi. Tekanan dan tantangan tersebut berbeda sesuai dengan tahapan pendidikan yang dijalani. Salah satu instrumen untuk menilai risiko bunuh diri adalah skala SADPERSONS. Skala ini bertujuan mengukur efektivitas dan relevansi dalam hal klinis. Studi ini untuk menganalisis tahapan pendidikan terhadap kecenderungan bunuh diri pada mahasiswa PPDS Ilmu Bedah di Universitas Sebelas Maret (UNS). Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan pada bulan Oktober 2024. Populasi adalah mahasiswa PPDS Ilmu Bedah di Universitas Sebelas Maret. Sampel diambil secara purposive sesuai dengan kriteria inklusi. Jumlah sampel yang ditargetkan adalah 90% populasi. Pengukuran kecenderungan bunuh diri menggunakan skala SADPERSONS. Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa PPDS Ilmu Bedah UNS, yaitu 94,93% memiliki kecenderungan yang rendah terhadap bunuh diri, dengan skor rentang 0-5 skala SADPERSONS. Terdapat 5,06% responden dalam kategori lebih berisiko (skor 6-14) yaitu tersebar pada 50% mahasiswa semester awal, 25% mahasiswa semester tengah, dan 25% mahasiswa pada semester akhir. Kesimpulan: Meskipun hanya minoritas mahasiswa yang mengalami kecenderungan bunuh diri, namun perlu upaya untuk menurunkan kecenderungan bunuh diri tersebut dan meningkatkan kesejahteraan mahasiswa kedokteran dengan asesmen yang tepat, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, serta penanganan tekanan yang sesuai dengan porsi pada tiap tahapan pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan mahasiswa pada seluruh tingkat semester yang mempunyai indikasi bunuh diri. Bukti tersebut menunjukkan perlunya penerapan strategi kesehatan mental yang komprehensif.