Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi optimal penempatan recloser guna meningkatkan keandalan sistem distribusi listrik dan mengurangi kerugian akibat padam di wilayah kerja PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Banggai, khususnya Sub ULP Salakan. Metode yang digunakan adalah kombinasi Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot kriteria dan Visekriterijumska Optimizacika Kompromisno I Resenje (VIKOR) sebagai metode pemilihan alternatif terbaik secara multikriteria. Lima alternatif lokasi awal (PMT Lalengan, PMT Busel, CO Bakalinga, Rec Mansamat, dan PMT Sabang) dievaluasi berdasarkan kriteria jumlah gangguan, jumlah pelanggan terdampak, penyebab gangguan, kondisi topografi, dan kekuatan sinyal komunikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa PMT Sabang merupakan lokasi terbaik secara umum. Selanjutnya, dilakukan evaluasi ulang pada sub segment jaringan PMT Sabang, dan ditemukan bahwa CO Bakalinga merupakan lokasi optimal untuk penempatan recloser. Evaluasi pasca pemasangan recloser menunjukkan bahwa nilai System Average Interruption Duration Index (SAIDI) menurun sebesar 10,1%, Energy Not Served (ENS) menurun sebesar 43,9%, namun System Average Interruption Frequency Index (SAIFI) mengalami peningkatan sebesar -32,1%, yang mengindikasikan adanya gangguan non-struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Dari sisi ekonomi, pendekatan Value of Lost Load (VOLL) menunjukkan efisiensi sebesar Rp 39.625.000 per tahun, dan hasil analisis biaya manfaat menunjukkan bahwa periode pengembalian investasi adalah 7,57 tahun, sehingga recloser dinilai layak dipasang secara teknis dan ekonomis. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode AHP-VIKOR dapat digunakan sebagai alat bantu keputusan yang efektif dalam optimasi sistem distribusi listrik.