Agustina, Wiwik
STIKes Maharani Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HAND HYGIENE MERUPAKAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA KECACINGAN PADA SISWADI SDN SIDORAHAYU 04 WAGIR KABUPATEN MALANG (Hand Hygiene As Risk Factor of Intestinal Wormy Diseases at Elementary School Students” Sidorahayu “ 04 Malang Regency of Wagir) Agustina, Wiwik; Dewani, Ratna Ayu
Journal Nursing Care and Biomolecular Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : STIKes Maharani Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.109 KB) | DOI: 10.32700/jnc.v2i1.37

Abstract

Perilaku hand hygiene merupakan tindakan mencuci tangan dan memotong kuku jari. Infeksi yang sering menyerang pada masa pertumbuhan adalah cacingan.  Cacingan merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi parasit. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara perilaku hand hygiene terhadap kejadian resiko cacingan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah siswa siswi di sekolah dasar kelas I dan II  di SDN Sidorahayu 04 Wagir Kabupaten Malang sebanyak 40 anak. Sampel dipilih sesuai dengan kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling. Hasil uji spearman menunjukkan nilai p=0,000 dengan α= 0,05, ada hubungan yang signifikan antara perilaku hand hygiene dengan resiko cacingan. Nilai korelasi r= 0.754 menunjukkan kekuatan korelasi yang kuat, dan arah korelasi positif . Perilaku hand hygiene yang cukup atau kurang dapat menyebabkan terjadinya resiko cacingan.perilaku hand hygiene yang kurang pada anak dapat menyebabkan anak beresiko terinfeksi cacingan. Kesimpulan dari penelitian ini  bahwa terdapat hubungan yang  bermakna pada  perilaku hand hygiene dengan resiko cacingan pada anak usia sekolah di SDN Sidorahayu 04 Wagir Kabupaten Malang. Selanjutnya disarankan untuk menanamkan perilaku hand hygiene  sejak dini pada anak baik di rumah ataupun di sekolah, agar resiko cacingan dapat menurun.
Pengaruh Kehamilan Terhadap Frekuensi Kekambuhan Asma Pada Ibu Hamil Trimester I, II Dan III Dengan Riwayat Asma Di Kota Malang Agustina, Wiwik; Sumiatun, Sumiatun
Journal Nursing Care and Biomolecular Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : STIKes Maharani Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.894 KB) | DOI: 10.32700/jnc.v2i2.42

Abstract

Di Indonesia prevalensi asma berkisar diantara 5% - 6% dari populasi penduduk di Indonesia, dengan prevalensi asma pada kehamilan berkisar diantara 3,7% - 4%. Defisiensi imun seluler dapat ditemukan pada kehamilan. Pada pregnant ashmatic baik dengan peningkatan IgE maupun tidak ada perubahan memiliki kecenderungan terjadinya eksaserbasi asma yang semakin memburuk selama kehamilan. Tujuan penelitian ini membuktikan pengaruh kehamilan terhadap frekuensi kekambuhan asma pada ibu hamil trimester I, II dan III dengan riwayat asma di kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain komparatif. Populasi dalam penelitian ini semua hamil dengan asma, sampel dipilih sesuai dengan kriteria inklusi, pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling. Pada hasil Friedman Test didapatkan nilai p=0.03 dengan α=0,05  maka hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan frekuensi kekambuhan asma yang signifikan antara ibu hamil trimester I, II dan III. Nilai korelasi r = 0, 1 menunjukkan kekuatan korelasi sangat lemah, dan korelasi positif. R2 = 3,6% menunjukkan kehamilan memiliki pengaruh 3,6% pada frekuensi kambuhan asma pada kehamilan. Perubahan fisik, emosional dan biokimia selama kehamilan menyebabkan kambuhan asma pada kehamilan, terutama stress pada trimester ketiga. Perubahan imunitas pada kehamilan, terutama penurunan imunitas yang dimediasi sel, diduga sebagai predisposisi infeksi pada orang dengan asma dan dapat menyebabkan pemburukan asma. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan frekuensi kambuhan asma pada kehamilan antara trimester I, II dan III, dimana frekuensi kekambuhan yang tertinggi terjadi saat trimester ketiga. Saran dari penelitian ini adalah pemantauan ketat dan penanganan yang benar pada ibu hamil penderita asma dengan melakukan Ante Natal Care (ANC) secara teratur.
HUBUNGAN PERAN KELUARGA DALAM MONITORING TERAPI OBAT TB DENGAN PENYEMBUHAN PENYAKIT SEKUNDER (TB) DARI PASIEN DM TIPE-2 DI RUMAH SAKIT PARU BATU (The correlation of Family Role in Monitoring TB Drug Therapy and Secondary Disease Treatment (TB) From T adinata, ryan; agustina, wiwik
Journal Nursing Care and Biomolecular Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : STIKes Maharani Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.552 KB) | DOI: 10.32700/jnc.v1i2.34

Abstract

Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks keluarga didalamnya terdapat peran keluarga sebagai pemelihara kesehatan. Pengidap Diabetes melitus (DM) memiliki resiko 2-3 kali lebih tinggi untuk terjangkit TB. Perlu diperhatikan peran keluarga dalam pemantauan pengkonsumsian obat TB pada pasien dengan riwayat DM. Sehingga hal terpenting bagi kesembuhan TB adalah pengontrolan gula darah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran keluarga dalam monitoring terapi obat dengan penyembuhan penyakit sekunder (TB) dari pasien DM tipe 2 di RS Paru Kota Batu. Penelitian ini merupakan Rancangan corelational dengan melalui pendekatan retrospektif. Sampel sebanyak 30 responden. Analisa data yang digunakan adalah Uji Spearman Rank dengan hasil p=0,716>α=0,05 sehingga menunjukkan H0 diterima  artinya tidak terdapat hubungan antara peran keluarga dalam monitoring terapi obat dengan penyembuhan penyakit sekunder (TB) dari pasien DM tipe 2 di RS Paru Kota Batu. Kesimpulanya adalah dimungkinkan bahwa jika menginginkan terjadinya kesembuhan TB harus memantau gula darah pada kondisi yang normal dan minum obat TB secara teratur. Saran dari penelitian ini adalah keluarga maupun pasien harus benar-benar memonitoring keadaan gula darah pasien disamping tugas keluarga yang menjadi PMO TB.