Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS PROGRAM KESEJAHTERAAN MENTAL DALAM MEMBANTU LANSIA DI PANTI WERDHA MEMBANGUN SIKAP MENERIMA DIRI SECARA POSITIF Rahmat, Kintan Aulia; Tan, Chatrine; Pratama, Adiyatma Doni; Roswiyani, Roswiyani
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35075

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program kesejahteraan mental dalam meningkatkan tingkat penerimaan diri pada lansia yang tinggal di Panti Werdha. Meningkatkan jumlah lansia yang tinggal di luar keluarga, terutama di daerah perkotaan, menyoroti perlunya intervensi yang ditargetkan untuk mendukung kesejahteraan psikologis mereka. Tujuan penelitian ini adalah program kesejahteraan mental dalam meningkatkan penerimaan diri pada Lansia di Panti Werdha. Penelitian ini melibatkan partisipan berjumlah 12 orang lansia, terdiri dari 9 laki-laki dan 3 perempuan, dengan rentang usia antara 60 hingga 80 tahun. Seluruh partisipan merupakan penghuni tetap panti sosial dan dipilih berdasarkan kesediaan serta kesesuaian dengan kriteria program intervensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuantitatif dengan instrumen Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ) yang dikembangkan oleh Chamberlain dan Haaga (2001), serta telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Mutiara (2018). Hasil analisis menunjukan bahwa program kesejahteraan mental tidak secara signifikan meningkatkan penerimaan diri lansia di Panti Werdha. Hasil penerapan program kesejahteraan mental pada 12 lansia di Panti Werdha menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penerimaan diri. Rata-rata skor pretest sebesar 4,46 sedikit lebih tinggi dibandingkan skor posttest sebesar 4,43, dengan nilai signifikansi p = 0,896. Sebanyak 7 dari 12 partisipan mengalami penurunan skor setelah program, sementara 5 lainnya menunjukkan peningkatan. Selain hasil kuantitatif yang tidak signifikan, observasi lapangan juga mencatat adanya kendala dalam pemahaman materi dan variasi motivasi peserta. Temuan ini mengindikasikan bahwa program belum sepenuhnya efektif dan perlu disesuaikan dengan kondisi serta karakteristik lansia di panti sosial.
PENGARUH CHILDHOOD EMOTIONAL NEGLECT TERHADAP SELF-EXPRESSION PADA DEWASA AWAL Tan, Chatrine; Roswiyani, Roswiyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9102

Abstract

Self-expression ability in young adulthood is an important aspect of psychological development, as it relates to an individual’s capacity to convey thoughts, emotions, and needs in an adaptive manner. However, many individuals still experience difficulties in expressing their emotions effectively. One factor that is presumed to influence this condition is the experience of Childhood Emotional Neglect (CEN), although studies specifically linking CEN to self-expression remain limited. This study aims to examine the effect of Childhood Emotional Neglect (CEN) on self-expression ability in young adults. The participants in this study consisted of 296 individuals aged 18–25 years. This study employed a quantitative approach using purposive sampling, and data were collected online through Google Forms. The instruments used included a self-expression scale and a CEN scale, both measured using a Likert scale. Data analysis included tests of normality, linearity, correlation, regression, and group differences. The results showed that participants’ levels of self-expression were in the moderate category, as were their experiences of CEN. Correlation analysis revealed that CEN had a significant negative relationship with self-expression (r = –0.177; p = 0.002), indicating that higher levels of CEN were associated with lower self-expression ability. Dimensional analysis showed that emotional needs had the strongest negative relationship with self-expression, followed by cognitive needs and supervision needs, while physical needs did not show a significant relationship. Regression analysis indicated that CEN had a significant effect on self-expression, although its contribution was relatively small (R² = 0.031). In addition, independent samples tests based on gender showed no significant differences in CEN or self-expression scores between males and females. Overall, this study concludes that experiences of emotional neglect during childhood contribute to lower self-expression ability in young adulthood. ABSTRAK Kemampuan self-expression pada dewasa awal merupakan aspek penting dalam perkembangan psikologis, namun masih banyak individu yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi secara adaptif. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah pengalaman Childhood Emotional Neglect (CEN), meskipun kajian yang secara spesifik menghubungkan CEN dengan self-expression masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh Childhood Emotional Neglect (CEN) terhadap kemampuan self-expression pada individu dewasa awal. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 296 orang dengan rentang usia 18–25 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dan pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Forms. Instrumen yang digunakan terdiri atas skala self-expression dan skala CEN yang diukur menggunakan skala Likert. Analisis data meliputi uji normalitas, linearitas, korelasi, regresi, dan uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat self-expression partisipan berada pada kategori sedang, demikian pula pengalaman CEN yang juga berada pada kategori sedang. Uji korelasi menunjukkan bahwa CEN memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan self-expression (r = –0,177; p = 0,002), yang berarti semakin tinggi tingkat CEN yang dialami individu, semakin rendah kemampuan self-expression yang dimilikinya. Analisis berdasarkan dimensi menunjukkan bahwa emotional needs memiliki hubungan negatif paling kuat dengan self-expression, diikuti oleh cognitive needs dan supervision needs, sedangkan physical needs tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa CEN berpengaruh signifikan terhadap self-expression, meskipun kontribusinya relatif kecil (R² = 0,031). Uji beda berdasarkan jenis kelamin menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada skor CEN maupun self-expression antara laki-laki dan perempuan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengalaman pengabaian emosional pada masa kanak-kanak berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan self-expression pada dewasa awal.