Wargiati, Wargiati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis hubungan pola konsumsi all you can eat dengan keluhan pencernaan Wargiati, Wargiati; Setyawan, Yuswanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1435

Abstract

Background: The phenomenon of all-you-can-eat (AYCE) restaurants has grown rapidly worldwide, particularly in developed countries, offering a convenient dining experience at a fixed price. Overeating at AYCE restaurants can impact digestive health. Purpose:  To analyze the relationship between all-you-can-eat consumption patterns and digestive complaints. Method: This quantitative cross-sectional study was conducted from March to May 2025 in Sidoarjo, East Java, specifically in areas with a diverse restaurant population, including AYCE restaurants. A total of 200 respondents were selected using a purposive sampling technique. The criteria were residing in Sidoarjo for at least two years, having dined at an AYCE restaurant at least once in the past month, and willingness to participate. Results: The most frequently consumed foods were meat and seafood (60%), while the average portion size per visit ranged from 4–6 servings (50%). This indicates a fairly dense consumption pattern, particularly for foods high in protein and fat. The most frequently reported digestive complaint was bloating (50%). These results suggest a potential correlation between overeating at AYCE restaurants and mild to moderate gastrointestinal complaints. Respondents mostly visited AYCE restaurants 3–4 times per month (45%). Conclusion: Excessive and unbalanced AYCE consumption, particularly low fruit and vegetable intake, may contribute to an increased risk of gastrointestinal disorders. AYCE consumption is not only associated with overeating but also has a significant impact on digestive health. Suggestion:  Further research should expand the scope of variables by measuring fiber intake, dietary fat content, and eating habits before and after visiting AYCE. Longitudinal analysis is needed to identify the long-term effects of AYCE consumption on digestive health.   Keywords: All You Can Eat; Digestive Complaints.   Pendahuluan: Fenomena restoran all you can eat (AYCE) telah berkembang pesat di seluruh dunia, terutama di negara-negara maju karena menawarkan pengalaman makan tanpa batas dengan harga tetap. Pola makan berlebihan di restoran AYCE dapat memengaruhi kesehatan pencernaan Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pola konsumsi all you can eat dengan keluhan pencernaan. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2025 di Sidoarjo, Jawa Timur,  khususnya yang memiliki berbagai restoran, termasuk konsep AYCE. Sebanyak 200 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria seperti berdomisili minimal dua tahun di Sidoarjo, pernah mengonsumsi makanan di restoran AYCE minimal sekali dalam sebulan terakhir, dan bersedia menjadi partisipan. Hasil: Jenis makanan yang paling sering dikonsumsi adalah daging dan seafood dengan persentase (60%), sedangkan rata-rata porsi yang dikonsumsi per kunjungan berkisar 4–6 porsi dengan persentase (50%). Hal ini menunjukkan pola konsumsi yang cukup padat, terutama pada jenis makanan tinggi protein dan lemak. Keluhan pencernaan yang paling sering dilaporkan adalah kembung (50%). Hasil ini menunjukkan adanya korelasi potensial antara pola konsumsi berlebih di restoran AYCE dengan keluhan gastrointestinal ringan hingga sedang. Responden sebagian besar mengunjungi restoran AYCE, 3–4 kali per bulan dengan persentase (45%). Simpulan: Konsumsi AYCE yang berlebihan serta kurang seimbang, khususnya rendahnya asupan sayuran dan buah dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan gastrointestinal. Gaya konsumsi AYCE tidak hanya berkaitan dengan pola makan berlebih, tetapi juga berdampak nyata terhadap kesehatan sistem pencernaan. Saran: Penelitian lanjutan sebaiknya memperluas cakupan variabel dengan mengukur asupan serat, kadar lemak makanan, serta kebiasaan makan sebelum dan sesudah mengunjungi AYCE. Analisis longitudinal diperlukan untuk mengidentifikasi efek jangka panjang konsumsi AYCE terhadap kesehatan pencernaan.   Kata Kunci: All You Can Eat; Keluhan Pencernaan; Pola Konsumsi.
Frekuensi Konsumsi Pepaya Sebagai Prediktor Gejala Wasir: Cross Sectional Study Wargiati, Wargiati; Setyawan, Yuswanto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22225

Abstract

ABSTRACT Hemorrhoids remain a common anorectal disorder with increasing prevalence, often associated with low dietary fiber intake. This study aims to determine the relationship between papaya consumption and hemorrhoidal symptoms among adults. A cross-sectional analytical study was conducted involving 220 respondents, equally divided between men and women. Data were collected through food frequency questionnaires and the Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), which assesses bleeding, pain, itching, swelling, and incomplete evacuation. The analysis used Chi-Square and Spearman correlation tests. The results showed a strong negative correlation between papaya consumption frequency and hemorrhoid symptom severity. Respondents who consumed papaya more than five times per week had notably milder or no symptoms compared to those who rarely or never consumed it. This finding suggests that regular papaya intake, due to its high fiber, papain enzyme, and anti-inflammatory content, may significantly reduce the risk and severity of hemorrhoids. The study concludes that papaya can be promoted as a practical, affordable, and culturally acceptable preventive food option for hemorrhoid control in community settings. Keywords: Papaya, Hemorrhoids, Dietary fiber, Hemorrhoidal Symptom Score, Prevention  ABSTRAK Wasir tetap menjadi gangguan anorektal yang umum dengan prevalensi yang meningkat, seringkali terkait dengan asupan serat makanan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi pepaya dan gejala wasir pada orang dewasa. Studi analitik potong lintang dilakukan dengan melibatkan 220 responden, terbagi sama antara laki-laki dan perempuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi makanan dan Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), yang menilai perdarahan, nyeri, gatal, pembengkakan, dan evakuasi yang tidak tuntas. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang kuat antara frekuensi konsumsi pepaya dan tingkat keparahan gejala wasir. Responden yang mengonsumsi pepaya lebih dari lima kali per minggu mengalami gejala yang lebih ringan atau bahkan tidak mengalami gejala dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsinya. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pepaya secara teratur, karena kandungan serat, enzim papain, dan sifat antiinflamasi yang tinggi, dapat secara signifikan mengurangi risiko dan keparahan wasir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pepaya dapat dipromosikan sebagai pilihan makanan pencegahan yang praktis, terjangkau, dan dapat diterima secara budaya untuk pengendalian wasir di masyarakat. Kata Kunci: Pepaya, Wasir, Serat makanan, Hemorrhoidal Symptom Score, Pencegahan