Hurnawijaya, Hurnawijaya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS TINGKAT KETAHANAN KELUARGA PASANGAN SUAMI ISTERI BERPENDIDIKAN RENDAH DI DESA SURABAYA KECAMATAN SAKRA TIMUR KABUPATEN LOMBOK TIMUR Hidayati, Laily; Hurnawijaya, Hurnawijaya
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 1 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i1.7091

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai pola ketahanan keluarga pasangan suami isteri berpendidikan rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola ketahanan keluarga bagi pasangan pendidikan rendah dan untuk mengetahui upaya keluarga pasangan pendidikan rendah dalam membina keutuhan keluarga di Desa Surabaya Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian kualitatif-deskriptif. Data penelitian di kumpulkan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahapan analisis data melalui tahapan reduksi data, display data atau penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Pengabsahan data dilakukan dengan triangulasi data, teknik perpanjangan waktu peneliti, dan kecukupan referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara landasan legalitas mereka cenderung kuat, ketahanan fisik mereka kuat, Ketahanan ekonomi mereka cenderung kuat, untuk ketahanan sosial psikologis mereka kuat, dan ketahanan sosial budaya pasangan pendidikan rendah cenderung kuat. Sehingga berdasarkan analisis kategori keluarga pasangan pendidikan rendah ditemukan empat pasangan yang pola ketahanannya stabil, Untuk pola ketahanan sedang ditemukan terdapat lima pasangan suami istri, Dan yang terakhir untuk pola ketahanan rentan atau lemah ditemukan hanya ada satu keluarga. Upaya untuk mempertahankan keutuhan keluarga di lakukan dengan cara saling pengertian, saling terbuka antara pasangan, kepercayaan pada pasangan, sikap saling mencintai, kasih sayang, menghormati antara pasangan, saling mengimbangi, serta sudah searah diantara pasangan dan juga sudah ada anak, menjalin komunikasi yang lancar dan jika ada masalah diselesaikan setelah kondisi emosional mulai membaik.
From Patriarchy to Heteroarchy in Islamic Family Law: Conceptualization of Equal Partnerships Between Husband and Wife Hurnawijaya, Hurnawijaya; Muhtolib, Muhtolib
Tasyri' : Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2026): Tasyri'
Publisher : STAINI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/tsyr.v5i1.348

Abstract

The relationship between men and women in Islamic family law has often been understood through a patriarchal framework that positions men as the dominant party in the family structure. This understanding often gives rise to legal and social practices that have the potential to obscure the principles of justice and partnership that are the fundamental spirit of Islamic teachings. This article aims to analyze and reconstruct the husband-wife relationship in Islamic family law through a heterarchical approach, as an alternative to the patriarchal paradigm. This research uses qualitative methods with a normative-conceptual approach, through an analysis of classical and contemporary Islamic legal sources, as well as a literature review on gender relations theory. The results of the study indicate that the concept of heterarchy—which emphasizes non-hierarchical and complementary relationships—is consistent with the basic principles of Islamic family law, such as justice ('adl), partnership (musyārakah), and mutual protection (wilāyah mutabādilah). This article argues that the husband-wife relationship in Islam is not superior-inferior, but rather functional and contextual, depending on the capabilities and agreements of each party. Thus, the heterarchical approach can be a relevant conceptual framework in efforts to reform Islamic family law to make it more responsive to contemporary social dynamics without relinquishing its normative foundation.