Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis kecelakaan kerja dengan metode hazard and operability study dan job safety analysis pada pekerjaan plumbing Syahreen Nurmutia; Wibawa Prasetya; Wanto Sarwoko; Wahyu Wahyu
JENIUS : Jurnal Terapan Teknik Industri Vol 6 No 2 (2025): JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri
Publisher : LPPMPK - Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/jenius.v6i2.1889

Abstract

Kecelakaan kerja yang terjadi akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan maupun bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja, seperti kehilangan anggota tubuh, atau bahkan kematian. Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja harus diterapkan pada setiap sektor pekerjaan proyek, karena pekerjaan proyek potensi memiliki risiko bahaya yang menyebabkan cidera bagi para pekerjanya ataupun kerusakan pada material yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kecelakaan kerja pada pekerjaan plumbing di PT. ABC dengan menerapkan metode Hazard and Operability Study (HAZOP) dan Job Safety Analysis (JSA). Metode JSA digunakan untuk mengidentifikasi bahaya, sedangkan HAZOP digunakan untuk menilai tingkat risiko melalui parameter likelihood dan consequences. HAZOP dan JSA dipilih karena merupakan pendekatan komprehensif dalam pengendalian risiko kecelakaan, baik dari sisi teknis (proses) maupun operasional (manusia). Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga kategori risiko, yaitu risiko ekstrim (15%), risiko tinggi (60%), dan risiko sedang (25%). Setelah penerapan upaya pengendalian, tingkat risiko dapat diminimalkan secara signifikan. Risiko ekstrim dan risiko tinggi mengalami penurunan bahkan sampai nol. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan kerja, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti seperti masker, sarung tangan, safety shoes dan pelindung mata sangat dianjurkan. Selain itu, pelatihan keselamatan, serta pengawasan ketat dalam upaya mencapai zero accident di proyek konstruksi juga sangat diperlukan.
Pengaturan Lama Waktu Istrahat Menggunakan Penilaian Beban Kerja Fisiologis di Bagian Assembling dan Sewing: (Studi Kasus: PT. Pungkok Indonesia One) Wanto Sarwoko; Muhammad Yusuf
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1606

Abstract

PT Pungkook Indonesia One merupakan perusahaan manufaktur tas outdoor dan fashion untuk brand internasional. Proses produksi meliputi cutting, assembling, sewing, packing, hingga ekspor. Penelitian ini berfokus pada bagian assembling dan sewing yang memiliki kondisi kerja kurang nyaman, seperti kebisingan dan suhu ruang yang panas, serta postur kerja yang bervariasi (sebagian pekerja berdiri dan sebagian duduk). Kondisi tersebut berkontribusi terhadap keluhan kelelahan yang berdampak pada kehadiran, produktivitas input–output, dan penurunan kualitas. Penilaian beban kerja fisik dilakukan menggunakan metode Cardiovascular Load (CVL) melalui pengukuran langsung dan tidak langsung pada 20 pekerja (10 pekerja assembling dan 10 pekerja sewing) dengan variasi usia dan berat badan. Hasil menunjukkan rata-rata CVL pada bagian assembling sebesar 14,54% (kategori ringan) dan pada bagian sewing sebesar 18,86% (kategori ringan). Nilai penilaian beban kerja untuk assembling adalah denyut nadi 86,38 denyut/menit, konsumsi oksigen 1,55 L/menit, energi 3,3711 kkal/menit, dan total metabolisme 313,51 kkal/jam; sedangkan pada sewing adalah denyut nadi 91,26 denyut/menit, konsumsi oksigen 1,66 L/menit, energi 3,691 kkal/menit, dan total metabolisme 362,45 kkal/jam. Berdasarkan total metabolisme, beban kerja pada bagian assembling dan sewing termasuk kategori sedang. Perhitungan waktu istirahat optimal berdasarkan pendekatan fisiologis menggunakan konsumsi energi menunjukkan bahwa tidak diperlukan tambahan waktu istirahat (Rt = 0), sehingga waktu istirahat yang tersedia selama 60 menit dinilai sudah mencukupi.