Tambunan, Rehjilena
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hegemoni dan Resistensi dalam Pidato Kampanye: Analisis Wacana Kritis terhadap Strategi Legitimasi Tambunan, Rehjilena
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.456

Abstract

Studi ini menelaah bagaimana hegemoni dibangun dan resistensi dinegosiasikan dalam pidato kampanye melalui strategi legitimasi yang bekerja pada level teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Menggunakan kerangka Analisis Wacana Kritis (Fairclough) yang dipadukan dengan tipologi strategi legitimasi van Leeuwen (otorisasi, evaluasi moral, rasionalisasi, dan mitopoiesis), penelitian ini menganalisis korpus terpilih pidato kampanye dari berbagai kanal (luring, siaran, dan platform digital). Prosedur analisis meliputi pemetaan sumber legitimasi, pengenalan pola retoris (framing, othering, populisme moral), serta penelusuran intertekstualitas dengan narasi media dan respons warganet. Temuan menunjukkan bahwa hegemoni terutama diproduksi melalui penyatuan identitas “kami” berbasis nasionalisme, religiositas sipil, dan teknokratisme kinerja, yang diperkuat oleh otorisasi figur otoritatif dan narasi keberhasilan berbingkai moral. Di sisi lain, resistensi muncul sebagai kontra-wacana yang memanfaatkan re-apropriasi istilah, satir/memeifikasi, dan pembacaan ulang bukti kebijakan untuk merongrong klaim kebenaran dan klaim kepantasan kandidat. Penelitian ini berkontribusi dengan memadukan AWK dan model legitimasi untuk memetakan “rantai legitimasi” lintas medium, sekaligus menawarkan indikator analitis guna membedakan legitimasi berbasis bukti dari legitimasi berbasis moralitas atau narasi heroik. Implikasi praktisnya mencakup penguatan literasi politik publik, perancangan etika komunikasi kampanye, dan penyadaran terhadap praktik bahasa yang berpotensi menormalisasi ketimpangan simbolik dalam ruang demokrasi.