Ritonga, Syahrijal
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Naratif Trauma dan Memori Kolektif: Pembacaan Psikoanalitik pada Novel Pasca-Konflik Ritonga, Syahrijal
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.458

Abstract

Studi ini mengkaji bagaimana novel pasca-konflik memformulasikan pengalaman luka sosial melalui strategi penceritaan yang menandai trauma individual sekaligus menegosiasikan memori kolektif. Berlandaskan kerangka psikoanalitik trauma (represi, repetition compulsion, dan kerja berduka) yang diperkaya konsep memori sosial, penelitian menerapkan close reading terhadap korpus novel pasca-konflik dengan fokus pada relasi antara teknik naratif—fragmentasi alur, analepsis/prolepsis yang terputus, focalisasi yang berpindah, metafora tubuh dan luka, serta “ruang kosong” (silence, ellipsis)—dan operasi ingatan bersama komunitas korban/penyintas. Prosedur analisis menautkan penanda gejala (mis. intrusi mimetik, mimpi, serangan panik, flashback) dengan bentuk-bentuk pengisahan (testimoni, pengakuan, arsip keluarga) untuk memetakan tiga fungsi naratif: (1) diagnostik, ketika teks memunculkan jejak trauma melalui ketidakteraturan waktu dan bahasa; (2) transitional, saat tokoh/komunitas menegosiasikan ambang antara ingatan privat dan narasi publik; dan (3) rekonsiliatif, tatkala cerita membuka kemungkinan kerja berduka dan etika kesaksian. Temuan menunjukkan bahwa narasi yang menggabungkan ketegangan antara kesunyian (yang tak terkatakan) dan dokumentasi (arsip, catatan, foto) lebih efektif mengonversi trauma menjadi sumber memori kolektif yang produktif—bukan sekadar repetisi kekerasan. Kontribusi studi terletak pada pemaduan indikator gejala psikis dengan perangkat naratologi sehingga jalur dari luka individual menuju formasi memori bersama dapat ditelusuri secara tekstual; implikasinya menyasar praktik kurasi sastra, pendidikan memori, dan kebijakan budaya yang peka pada pemulihan pasca-konflik.