Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik perawatan bayi dan pantangan ibu menyusui pada masyarakat suku Jawa, Bugis, dan Madura di Kalimantan Barat. Praktik ini merupakan bagian dari warisan budaya yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada tiga informan yang dipilih mewakili fenomena yang terjadi dan dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Jawa, Bugis, dan Madura memiliki praktik tradisional seperti memandikan bayi dengan air hangat, membedong (membungkus dengan kain), memijat dengan ramuan herbal, serta menjaga pantangan makanan bagi ibu menyusui. Pantangan yang umum ditemui meliputi larangan keluar rumah setelah magrib, larangan ibu menyusui mengonsumsi makanan pedas, amis, atau berminyak, serta larangan membawa bayi keluar rumah pada usia tertentu. Masyarakat Bugis cenderung memadukan perawatan tradisional dan modern, sedangkan masyarakat Jawa dan Madura lebih mempertahankan cara tradisional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi perawatan bayi memiliki nilai kultural yang penting, namun memerlukan edukasi agar selaras dengan prinsip kesehatan modern. This study aims to describe infant care practices and breastfeeding restrictions among Javanese, Bugis, and Madurese communities in West Kalimantan as part of cultural heritage that is still practiced today. The study employed a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with three purposively selected informants and analyzed using thematic analysis techniques. The findings reveal that these communities have traditional practices such as bathing babies in warm water, swaddling, massaging with herbal mixtures, and imposing dietary restrictions on breastfeeding mothers. Common prohibitions include not leaving the house after sunset, avoiding spicy, fishy, or oily foods for breastfeeding mothers, and restrictions on taking infants outside at certain ages. Bugis communities tend to combine traditional and modern care, while Javanese and Madurese communities mostly adhere to traditional methods. The study concludes that traditional infant care practices carry significant cultural values but require health education to align with modern healthcare principles.