Muflih, Abdullah Yusuf
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ethical Politics beyond Power: The Alawiyyin’s Moral Engagement and Non-Electoral Participation in Democratic Indonesia Muflih, Abdullah Yusuf; Ajikontea, Haikal Akmal; Khotir, Tafrikhul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/r29bpz03

Abstract

In Indonesia, debates around Islam and politics often revolve around tensions between secular democracy and religious identity, usually spotlighting mass-based movements or populist Islamism. However, the role of religious elites like The Alawiyyin—descendants of the Prophet Muhammad—remains understudied despite their subtle influence on political discourse. This study aims to examine how The Alawiyyin in Surakarta interpret Islamic politics and practice political participation without direct involvement in electoral processes. Employing a qualitative case study approach, it draws on data collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis. The analysis uses triangulation techniques to ensure validity across multiple sources and methods. The study is framed by Bayat’s post-Islamism, Roy’s depoliticization thesis, Weber’s patrimonial authority, and Tilly’s concept of contentious politics. The findings indicate that for The Alawiyyin, politics is inherently ethical and inseparable from religious duty, where governance and leadership are regarded as moral responsibilities rather than instruments of power. Their participation is expressed through teaching, da’wah, and ethical dialogue, enabling them to influence civic and political values while maintaining independence from partisan agendas. The implication of this study is that Islamic political participation can extend beyond formal institutions, taking the form of ethical leadership and moral engagement that strengthen democratic pluralism in Indonesia. Di Indonesia, perdebatan tentang hubungan Islam dan politik sering berfokus pada ketegangan antara demokrasi sekuler dan identitas keagamaan, dengan sorotan utama pada gerakan massa atau Islamisme populis. Namun, peran elite agama seperti Alawiyyin—keturunan Nabi Muhammad—masih jarang dibahas meskipun mereka memiliki pengaruh halus dalam wacana politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana komunitas Alawiyyin di Surakarta memahami politik dalam Islam dan bagaimana mereka terlibat dalam politik tanpa terlibat langsung dalam proses elektoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Analisis dilakukan dengan teknik triangulasi untuk menjaga validitas dari berbagai sumber dan metode. Penelitian ini menggunakan kerangka teori dari Bayat (post-Islamisme), Roy (depolitisasi Islamisme), Weber (otoritas patrimonial), dan Tilly (politik kontestasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi komunitas Alawiyyin, politik tidak dapat dipisahkan dari etika keagamaan, di mana kepemimpinan dan tata kelola dipahami sebagai tanggung jawab moral, bukan sebagai sarana untuk meraih kekuasaan. Partisipasi politik mereka diekspresikan melalui pendidikan, dakwah, dan dialog etis yang memungkinkan mereka memengaruhi nilai-nilai sosial dan politik tanpa terikat pada kepentingan partai atau afiliasi politik tertentu. Implikasi penelitian ini adalah bahwa partisipasi politik Islam dapat melampaui batas-batas institusional formal dengan mewujud dalam bentuk kepemimpinan etis dan keterlibatan moral yang memperkuat pluralisme demokrasi di Indonesia.
Reimagining Political Islam: The Habaib Group's Vision and Political Participation in Surakarta Muflih, Abdullah Yusuf; Akbar, Rezza Dian
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 3 (2025): Vol. 14 No. 3 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i3.84219

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran politik Habaib, keturunan Nabi Muhammad, yang jarang dibahas dalam diskusi tentang keterlibatan politik Islam. Seringkali pembahasan terfokus pada pembentukan negara Islam berdasarkan hukum Syariah atau keterlibatan dengan politik sekuler. Sebaliknya, Habaib mempengaruhi politik melalui otoritas agama, pengaruh sosial, dan kepemimpinan moral. Penelitian ini berfokus pada Surakarta, menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur kepada enam informan, observasi lapangan, dan tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa Habaib memandang politik Islam sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, bukan untuk mendirikan negara Islam atau terlibat langsung dalam politik. Partisipasi mereka lebih pada mendukung pemimpin yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam tanpa ambisi menduduki jabatan politik. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang keterlibatan politik Islam di Indonesia, dengan menggeser pemahaman dualistik antara Islamisme dan sekularisme. This study examines the political role of the Habaib, descendants of Prophet Muhammad, whose influence has been largely overlooked in discussions about Islamic political involvement. While debates often center on establishing an Islamic state based on Sharia law or engaging with secular politics, the Habaib exert political influence through religious authority, social standing, and moral leadership. Focusing on Surakarta, the research uses qualitative methods, including semi-structured interviews with six informants, field observations, and a literature review. Findings reveal that the Habaib view political Islam as a means to promote Islamic values rather than to establish an Islamic state or participate directly in politics. Their involvement is marked by indirect support for leaders who uphold Islamic principles, not by seeking political office. This study offers new insights into Islamic political engagement in Indonesia, moving beyond the traditional dichotomy of Islamism versus secularism.