Ni Gusti Ayu Made Afriyanti
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP UPACARA OTONAN ANAK DI BANDAR LAMPUNG Ni Gusti Ayu Made Afriyanti; Wayan Suryani
JPA : JURNAL PENDIDIKAN AGAMA Vol. 15 No. 2 (2024): JURNAL PENDIDIKAN AGAMA
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman umat Hindu di Bali terhadap ajaran agama dan tradisinya, denganjelas dapat disaksikan melalui pelaksanaan upacara keagamaan. Upacara-upacarakeagamaan di Bali yang tercakup dalam Manusia Yadnya, banyak mempergunakan saranaberupa upakara dan banten. Contoh Upacara Manusia yadnya salah satunya adalah upacaraotonan pada anak, yaitu memperingati hari kelahiran seseorang menurut pawukon, PancaWara dan Sapta Wara. Upacara kelahiran dalam umat Hindu di Bali dilaksanakan setelahbayi lahir sampai 210 hari atau disebut juga otonan. Pelaksanaannya merupakan bukti rasasyukur kepada Ida Sang Hyang widhi, dan para leluhur atas keturunan darah yang sudahdiberikan, agar selalu ingat pada diri sendiri, di mana kita berada, berapa usia kita, untukmenjadi anak-anak yang suputra yang selalu berpegang teguh pada ajaran Dharma.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi masyarakat terhadapupacara otonan anak di Bandar lampung. Dalam penelitian ini penulis menggunakah teorireligi dan teori makna guna untuk memahami lebih dalam tentang persepsi masyarakatterhadap upacara otonan anak. Pengumpulan data dengan tehnik observasi, tehnikwawancara dengan beberapa nara sumber atau informan yang penulis pilih sesuai denganjudul skripsi., dan dokumentasi, metode penelitian yang digunakan adalah metodekualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat di Bandar lampungmempunyai persepsi yang hampir sama terhadap upacara otonan anak, upacara otonanadalah bagian dari Manusia Yadnya, yaitu korban suci yang dipersembahkan dengan tulusikhlas demi keselamatan keturunan, membentuk anak-anak yang suputra dan suputri.Diperingati setiap 210 hari, berdasarkan pawukuan terdiri dari 30 wuku, sapta wara yangterdiri dari tujuh hari, dan panca wara yang berjumlah lima, sangat penting dan wajib untukdi peringati sesuai dengan perhitungan kalender Bali. Yang mempunyai tujuan utamaadalah memperintati hari kelahiran, sebagai pebersihan dan penyucian diri lahir dan batinsecara sekala dan niskala. Memohon keselamatan dan perlindungan Nya. Menetralisirpengaruh-pengaruh yang tidak baik yang ada pada diri manusia dan mengentaskan deritabawaan pada kelahiran sebelumnya.