Masyarakat Minahasa memiliki beragam kearifan lokal dalam praktik pertanian dan gotong royong yang dikenal dengan Mapalus, yang berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata edukasi. Namun, potensi ini belum dikelola secara optimal oleh masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat Rukun Kerja Mapalus Maleloan, Kecamatan Langowan Selatan, Minahasa, dalam mengelola potensi budaya dan pertanian lokal sebagai wisata edukasi berkelanjutan. Metode yang digunakan ialah pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development) yang menekankan pemanfaatan aset lokal, melalui tahapan survei kebutuhan, pelatihan sadar wisata dan sapta pesona, serta pendampingan partisipatif. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konsep sadar wisata dan pengelolaan atraksi berbasis budaya sebesar 65%, serta terbentuknya kelompok masyarakat yang mulai merancang paket wisata edukasi seperti demonstrasi penanaman padi tradisional, pengolahan saguer menjadi cap tikus, dan praktik kerja sama Mapalus. Kegiatan ini juga menghasilkan rencana promosi berbasis media sosial untuk memperkenalkan potensi lokal secara lebih luas. Disimpulkan bahwa pelatihan ini berhasil menumbuhkan kesadaran pariwisata dan keterampilan dasar wirausaha bagi masyarakat, sehingga mendukung pengembangan wisata edukasi berbasis kearifan lokal dan memperkuat ekonomi kreatif desa.