Dalam tradisi Gereja katekisasi merupakan moment penting dalam pembentukan iman sebelum seseorang menyatakan komitmen imannya. Metode dalam katekisasi memegang peranan penting dalam meningkatkan religiusitas peserta. Namun, dalam praktiknya, metode pengajaran yang digunakan sering kali bersifat satu arah, didominasi oleh ceramah dan hafalan doktrin, yang kurang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya dan berdiskusi sehingga proses pembelajaran terasa kaku karna menciptakan jarak antara Pemimpin katekisasi dan peserta. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, penelitian ini mengajukan model kepemimpinan Yesus sebagai Sahabat sebagai pendekatan baru dalam proses katekisasi. Yesus dalam pelayanan-Nya tidak hanya mengajar dengan otoritas, tetapi hadir secara dekat, mendengarkan, berdialog, dan membangun relasi yang setara dengan murid-murid-Nya. Model inilah yang ditawarkan dalam penelitian ini agar katekisasi bisa menjadi lebih hidup dan membuat peserta merasa dihargai. Dengan meneladani Yesus sebagai Sahabat, penelitian ini menawarkan sebuah pendekatan kepemimpinan yang dialogis dan egaliter guna meningkatkan religiusitas Peserta katekisasi sidi.