Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendekatan Sosialisasi dan Keperawatan pada Pasien Gangguan Integritas Kulit di Rumah Sakit Advent Medan Rumapea, Natalina L. B.; Barus, Nelly
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 2: Agustus (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v4i2.629

Abstract

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, baik sebagian maupun seluruhnya, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti pukulan langsung, gaya tekan, gerakan memutar tiba-tiba, dan kontraksi otot yang berlebihan. Fraktur dapat berdampak signifikan pada jaringan di sekitarnya, yang mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf, dan cedera pembuluh darah. Di Indonesia, fraktur merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberkulosis, dengan jumlah kasus tertinggi di Asia Tenggara. Fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan lalu lintas merupakan yang paling umum terjadi. Sistem muskuloskeletal, yang terdiri dari otot dan tulang, saling berhubungan. Kasus fraktur yang umum terjadi melibatkan anggota tubuh, dan perawatan pasca operasi fraktur meliputi penanganan luka menggunakan larutan NaCl 0,9% dan antibiotik. Asuhan keperawatan pada pasien fraktur tibia-fibula terbuka pasca operasi sangat penting untuk mencegah infeksi dan mendukung penyembuhan luka. Implementasi keperawatan meliputi pelaksanaan perawatan yang telah direncanakan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal dengan memanfaatkan pengetahuan keperawatan, keterampilan komunikasi, dan kemampuan teknis. Tim keperawatan mengevaluasi kesehatan pasien dengan membandingkannya dengan tujuan yang ditetapkan, memastikan perawatan pasien yang optimal. Teori keperawatan Orem, yang menekankan perawatan diri dan kemandirian, diterapkan dalam skenario fraktur tungkai bawah untuk menjaga kesehatan pasien dan mempercepat pemulihan. Laporan kasus menyoroti pasien berusia 57 tahun dengan fraktur tibia-fibula pasca operasi, yang menekankan pentingnya intervensi keperawatan yang efektif. Analisis kasus seorang pria berusia 59 tahun dengan fraktur tibia-fibula terbuka pasca operasi kecelakaan jalan raya memerlukan perawatan luka intensif. Perawatan luka yang tepat menggunakan NaCl 0,9% dan pembalut antibiotik Framycetin sulfat membantu dalam pembersihan luka dan retensi kelembapan, mempercepat penyembuhan. Dukungan nutrisi memainkan peran penting dalam penyembuhan luka, dan nutrisi yang kurang dapat menghambat proses penyembuhan. Pemantauan kemajuan luka, pencegahan infeksi, dan kolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk terapi antibiotik sangat penting dalam mencapai hasil penyembuhan yang optimal. Kesimpulan: Perawatan keperawatan yang efisien dari penilaian hingga evaluasi menunjukkan masalah yang belum teratasi seperti gangguan integritas kulit/jaringan, nyeri, gangguan mobilitas fisik, konstipasi, risiko infeksi, dan risiko jatuh pada pasien. Mempertahankan intervensi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan perawatan klien. Dalam kasus pasien dengan fraktur tibia-fibula terbuka pascaoperasi, perawatan luka yang efektif dengan NaCl 0,9% dan Sofratulle sangat penting, tetapi tantangan tetap ada karena perawatan luka yang buruk dan nutrisi yang tidak memadai sangat penting untuk penyembuhan luka yang berhasil.
Pendekatan Sosialisasi dan Keperawatan Pasien Nyeri Luka Section Caesarea di Rumah Sakit Umum Kabanjahe Barus, Nelly
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 2: Agustus (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v4i2.630

Abstract

Terdapat dua jenis persalinan, yaitu persalinan normal dan persalinan caesar. Operasi caesar dilakukan melalui sayatan di perut dan rahim dalam kondisi tertentu seperti disproporsi sefalopelvik, ruptur uteri, persalinan lama, dan lain-lain. World Health Organization melaporkan adanya peningkatan insiden operasi caesar di negara-negara berkembang. Angka operasi caesar di rumah sakit pemerintah sekitar 11%, sedangkan di Inggris mencapai 20-29,1%. Di Indonesia, angka operasi caesar melebihi standar WHO yaitu 5-15%. Operasi caesar juga memiliki risiko seperti nyeri, masalah gizi, tantangan menyusui, dll. Asuhan keperawatan untuk nyeri pasca operasi caesar dapat dilakukan dengan menggunakan teknik nonfarmakologis seperti aromaterapi lavender. Penelitian tentang asuhan keperawatan untuk nyeri pasca operasi caesar bertujuan untuk memberikan informasi tentang terapi aromaterapi untuk masalah nyeri pada pasien pasca operasi caesar, yang bermanfaat bagi perawat, rumah sakit, lembaga pendidikan, dan klien dalam manajemen nyeri pasca operasi caesar. Penerapan aromaterapi lavender dapat membantu mengurangi intensitas nyeri pada ibu pascapersalinan, menciptakan lingkungan yang menenangkan dan meningkatkan gelombang relaksasi di otak. Asuhan keperawatan untuk nyeri akut pada pasien pascaoperasi caesar meliputi penilaian lokasi nyeri, skala, frekuensi, observasi tanda-tanda vital, pengajaran teknik nonfarmakologis, dan pemberian edukasi manajemen nyeri. Sectio Caesarea dan Manajemen Medis: Operasi caesar (SC) adalah metode persalinan yang melibatkan sayatan di dinding rahim melalui perut. Manajemen medis untuk pasien yang menjalani operasi caesar meliputi pemberian cairan intravena, anestesi regional atau spinal, persetujuan tindakan, tes laboratorium, terapi oksigen, pemantauan tanda-tanda vital di ruang pemulihan, dan pemasangan kateter urin. Manajemen nyeri untuk pasien pascaoperasi caesar dapat menjadi tantangan, memerlukan pemahaman yang komprehensif tentang aspek fisiologis dan psikologis untuk memastikan pemulihan dan kesejahteraan yang optimal bagi pasien ini.