Ashri, Zainul
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP KEADILAN SOSIAL DALAM KITAB SUCI: STUDI KOMPARATIF DALAM AGAMA ISLAM DAN KONGHUCU Ashri, Zainul
Studia Sosia Religia Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v6i1.18900

Abstract

Justice is something central, and to which society aspires greatly. Justice cannot be separated from the prevailing legal order. Society as implementers and observers of the legal order has benchmarks oriented to ethical values and morality that cause the legal order to be obeyed and even abandoned. In addition, social society is also governed by religious norms which are also the main reference in determining the good and bad of something. Each of the beliefs will teach its adherents to uphold the value of justice in life, both social life and state life. This paper tries to compare the concept of justice from Islam and Confucianism, therefore, this paper focuses on knowing what are the concepts of justice offered by Islam and Confucianism. With comparative literature study and analysis, as far as research on the concept of justice from Islam and Confucianism found several findings, including: Islam teaches the concepts of justice: trust, honesty and equality. Confucianism teaches the concepts: morality, honesty, love and public interest. At first glance, the concepts of justice offered by Islam and Confucianism almost all have something in common. But in addition, the striking difference from the concept offered by the two religions is related to the concept of amanah from Islam. This shows that Islam teaches everything based on science. Amanah in terms of language does mean trustworthy, but more deeply mandate requires a leader to have qualified knowledge. So that with his knowledge will give birth to love, honesty and equality.
Analisis Kalimat Istifha>m dalam QS. At-Ti>n Ayat 8: Studi Semiotika Charles Sanders Peirce Ashri, Zainul
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19754

Abstract

Kalimat istifha>m tidak selamanya diartikan sebagai kalimat pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Namun sebaliknya, kalimat tanya bisa beralihfungsi menjadi kalimat perintah, kalimat berita dan kalimat larangan. Dalam ilmu balaghah, kalimat tanya seperti ini masuk dalam klasifikasi kalimat istifha>m majazi. Hal yang menjadi polemik dalam dunia akademik ketika ilmu balaghah tidak bisa menjelaskan perubuhan fungsi kalimat dengan lebih jelas, hanya sekedar memberikan teori bila ada partikel kalimat tanya seperti kata “hamzah” atau “hal” dalam suatu ayat. Oleh sebab itu, tulisan ini ingin menggali lebih detail lagi penyebab pengalihfungsian kalimat istifha>m dengan metode semiotika Peirce. Di mana konsep semiotika Peirce merupakan proses penafsiran yang berasal dari proses semiosis obyek dan representament yang nantinya akan menghasilkan interpretant. Dengan konsep semiotika Peirce, tulisan ini fokus dalam menggali interpretant dari katlimat istifha>m pada QS. At-Ti>n ayat 8.Dengan menggunakan studi kepustakaan, dan analisis-deskriptif hasil penelitian ini menunjukkan, QS. At-Ti>n ayat 8 sebagai salah satu contoh kalimat istifha>m bila dikaji dengan teori semiotika Peirce akan mendapati tiga interpretasi, pertama, kalimat istifha>m pada ayat tersebut termasuk dalam kalimat tanya kovirmatif yang sifatnya potensial yang masih menunggu konvirmasi dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kedua, kaliamat istifha>m termasuk dalam istifha>m majazi yang memberikan makna pernyataan dan sifatnya faktual, kefaktualannya sudah diakui dalam ilmu balaghah, dan Ketiga, sebagai penegasan bahwa hakim dan keadilan yang paling adil didapati dari Allah Swt, di mana hal ini bersifat konvensional yang didapati dari proses semiosis obyek dan representament ayat-ayat sebelumnya.Kata Kunci: Kalimat Istifha>m, Semiotika Carles Sanders Peirce.