This Author published in this journals
All Journal LoroNG
Habibie, Mukhammad Rudi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Patronasi Ustaz dan Ustazah dalam Pendidikan: Studi Kasus Ketimpangan Peran Kalangan Pengajar Lembaga Pendidikan Al-Quran Wardatul Ishlah Habibie, Mukhammad Rudi
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v5i1.88

Abstract

Patronage from ustaz and ustazah in al-Quran Educational Institutions of Wardatul Ishlah investigated to digging the meaning of gender phenomenon in public spaces. The reason of ustaz domination assessed more than ustazah explored thoroughly. Case study on role imbalance of teacher do with a qualitative approach. Interviews were conducted in this study to understand the views and perceptions of the teachers about ustaz and ustazah role imbalance. Observations on life in the institute also conducted to understand empirical data of sustainable education. Thus, documentation is researcher supporting data to understand the reality of ustaz and ustazah patronage. The results of this study explained the role imbalance legitimized by religious histority. That’s positioning the man as the front man. So, ustazah be the subordinate. Social legitimacy arose because society views taboo if women appeared and dominated in Wardatul Ishlah public space. Thus, psychological legitimacy clarified that ustazah often indecisive, especially to decide a case. Patronasi ustaz dan ustazah di Lembaga Pendidikan al-Quran Wardatul Ishlah diselidiki dengan tujuan menggali makna fenomena gender di ruang publik. Alasan dominasi ustaz yang dinilai lebih banyak dari pada perempuan dieksplorasi dengan teliti. Studi kasus terhadap ketimpangan peran pada kalangan pengajar dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Wawancara dilakukan dalam penelitian ini untuk mengetahui pandangan dan persepsi para pengajar mengenai timpangnya peran ustaz dan ustazah. Observasi terhadap kehidupan di lembaga juga dilaksanakan untuk mengetahui data empiris keberlangsungan pendidikan. Kemudian dokumentasi menjadi data pendukung peneliti untuk memahami realitas patronasi ustaz dan ustazah. Hasil penelitian menjelaskan bahwa timpangnya peran kalangan pengajar dilegitimasi oleh historisitas agama. Yaitu memosisikan laki-laki sebagai orang terdepan. Sehingga ustazah menjadi kaum yang tersubordinasi. Legitimasi sosial muncul karena masyarakat memandang tabu perempuan yang muncul dan mendominasi di ruang publik Wardatul Ishlah. Lalu legitimasi psikologis menegaskan bahwa ustazah sering bimbang, terutama untuk memutuskan sebuah perkara.
Impresi Harmonisme Islam: Studi Eksploratif Tradisi Masyarakat Muslim Delik dalam Menjaga Bina-Damai Habibie, Mukhammad Rudi
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v4i1.103

Abstract

Portrait of a harmonious life that is manifest in the culture of Delik society has a strategic formula to cultivate society’s conciliation. Through historical study, the findings revealed a harmonization process between Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah to be implemented in getting along which all of them are Muslim. The routines of all Muslim are accentuated through tahlilan, istighosah, reading sholawat Burdah and diba’i. Functionality of tradition that have been familiarized has shaped the character of it’s society concerns, such as the intensiveness of interaction so as to be realized social integrity of Delik society. Potret kehidupan harmonis yang termanifestasi dalam kultur masyarakat Delik memiliki rumus strategi untuk membina perdamaian umatnya. Terdapat proses harmonisasi organisasi masyarakat antara Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah, sehingga dapat terlaksana secara akur rutinitas warga yang kesemuanya muslim. Rutinitas semua pemeluk muslim tersebut terwujud melalui kegiatan tahlilan, istighosah, pembacaan shalawat burdah dan diba’i. Fungsionalitas tradisi yang membudaya itu telah membentuk karakter kepedulian masyarakat Delik, seperti keintensifan interaksi sosial, sehingga dapat terealisasikan integrasi sosial.