Bullying behavior is a serious problem in the educational environment that can hinder social interaction and character development of students. This study focuses on an in-depth analysis of the bullying phenomenon at SMP Negeri 5 Kupang. The main objectives are to describe the forms of bullying that occur, identify the causal factors, and explain the pattern of student character development through the application of the restitution triangle approach. This study uses a descriptive qualitative method to describe the situation systematically and accurately. Important stages of the study include collecting data on bullying incidents, analyzing causes, and observing the implementation of character development programs. The results of the study showed that the most dominant form of bullying was direct verbal contact (43.33%), while the main causal factor was the family environment (52%). As a solution, the school implemented a character development pattern centered on the restitution triangle approach with specific steps: stabilizing identity, validating wrong actions, and questioning beliefs. It was concluded that bullying is a negative behavior that is strongly rooted in external factors of students, especially the family. Therefore, effective handling requires not only intervention in schools such as the restitution triangle, but also serious and intensive involvement from the government, community, and other related institutions. ABSTRAKPerilaku perundungan (bullying) merupakan masalah serius dalam lingkungan pendidikan yang dapat menghambat interaksi sosial dan perkembangan karakter siswa. Penelitian ini berfokus pada analisis mendalam mengenai fenomena perundungan di SMP Negeri 5 Kupang. Tujuan utamanya adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk perundungan yang terjadi, mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya, dan memaparkan pola pembinaan karakter siswa melalui penerapan pendekatan segitiga restitusi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan situasi secara sistematis dan akurat. Tahapan penting penelitian meliputi pengumpulan data mengenai insiden perundungan, analisis penyebab, serta observasi implementasi program pembinaan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk perundungan yang paling dominan adalah kontak verbal langsung (43,33%), sedangkan faktor penyebab utamanya adalah lingkungan keluarga (52%). Sebagai solusi, sekolah menerapkan pola pembinaan karakter yang berpusat pada pendekatan segitiga restitusi dengan langkah-langkah spesifik: menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Disimpulkan bahwa perundungan merupakan perilaku negatif yang berakar kuat dari faktor eksternal siswa, terutama keluarga. Oleh karena itu, penanganan yang efektif tidak hanya memerlukan intervensi di sekolah seperti segitiga restitusi, tetapi juga keterlibatan serius dan intensif dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait lainnya.