Penelitian ini bertujuan untuk menganilis peran pelayan khusus gereja dalam mengatasi pasangan kohabitas di jemaat Morekau. Fenonema kohabitasi dalam pasangan Kristen ini bertentangan dengan nilai-nilai etikan Kristen. Kohabitasi juga merupakan tindakan yang menciderai nilai pernikahan Kristen karena pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mendapat persetujuan orang tua hingga pengakuan gereja. Fenomena kobabitas menegaskan bahwa kohabitasi umumnya dipandang sebagai tahap sebelum pernikahanada pula yang menganggabnya tindakan di mana pasangan memilih untuk tinggal bersama tanpa adanya ikatan pernikahan. Pengambilan keputusan untuk hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan sangatlah kompleks dan rumit dan bersifat personal. Namun, praktik kohabitasi di Indonesia dapat dilihat dalam perspektif yang negatif. Kohabitasi di Indonesia cenderung melanggar norma yang ada termasuk juga norma-norma kristiani. Pasangan Kristen yang memutuskan untuk menjalankan praktik kohabitasi langsung bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Praktik kohabitasi merupakan praktik kehidupan berpasangan yang menyangkal nilai pernikahan pada umumnya termasuk juga nilai pernikahan Kristen. Oleh karena itu, kohabitasi merupakan tindakan hidup bersama yang diambil oleh pasangan tanpa ada ikatan pernikahan dan tindakan tersebut melawan hukum serta etika di Indonesia dan juga melawan ajaran Alkitab maupun etika Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dan teknik analisa data menggunakan teknik reduksi data,penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran pelayan khusus gereja sangat penting dalam membimbing pasangan kohabilitas menuju pernikahan yang sah, dengan memberikan dukungan spiritual, emosional, dan edukatif yang dibutuhkan. Ini berkontribusi pada penguatan nilai-nilai keluarga dan komunitas di Jemaat GPM Morekau.