Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Faktor Terbentuknya Pseudo-Families di Kalangan Narapidana Perempuan di Lapas Perempuan Kelas IIa Semarang Utami, Istiana Puji; Rahayu, Mulyani
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 4 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i4.3025

Abstract

Pseudo-families merupakan fenomena sosial yang melibatkan pembentukan hubungan emosional antar narapidana yang mirip dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor pendorong terbentuknya pseudo-families di kalangan narapidana perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan 3 orang petugas pemasyarakatan, 1 orang psikolog eksternal yang terlibat dalam program pendampingan, serta 6 orang narapidana yang diindikasikan memiliki kedekatan intens. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan NVivo 12 melalui fitur hierarchy chart. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mendorong terbentuknya pseudo-families di Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang meliputi kebutuhan afeksi, trauma relasi, dan isolasi sosial. Kebutuhan afeksi yang mencakup kebutuhan dasar dalam teori Maslow untuk rasa aman dan kasih sayang, menjadi faktor pendorong utama, diikuti oleh trauma relasi akibat pengalaman buruk di masa lalu dan isolasi sosial yang membuat narapidana perempuan merasa terasing dan kehilangan rasa aman. Pembentukan pseudo-families di Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang dapat dipahami sebagai mekanisme adaptif yang muncul untuk memenuhi kebutuhan dasar afeksi, keamanan, dan hubungan sosial yang dirasakan terancam dalam sistem pemasyarakatan. Teori Maslow memberikan kerangka untuk memahami bagaimana kebutuhan dasar narapidana perempuan yang tidak terpenuhi dapat mendorong pembentukan hubungan emosional yang lebih erat antar mereka, berfungsi sebagai sarana bertahan hidup dalam keterbatasan fisik dan psikologis di penjara.