Puspita Dewi, Metta
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Tradisi Tari Lulo Suku Tolaki Dalam Pandangan Agama Buddha: (Kajian Folklor Masyarakat Moramo, Sulawesi Tenggara) Andrini, Fitri; Paramita, Santi; Puspita Dewi, Metta
PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama Vol. 3 No. 2 (2022): PATISAMBHIDA - Jurnal Pemikiran Buddha dan Filsafat Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/patisambhida.v3i2.440

Abstract

Penelitian ini dilakukan dikarenakan pemuda Buddhis yang belum memahami pelaksanaan tradisi tari Lulo di Kecamatan Moramo dan makna-makna yang terkandung dalam pandangan agama Buddha. Tujuan penelitian yaitu: (1) untuk mendeskripsikaan pelaksanaan tradisi tari Lulo oleh masyarakat Moramo, (2) untuk mendeskripsikan makna tari Lulo dalam pandangan agama Buddha.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif guna mengetahui nilai masing-masing variabel. Penggunaan pendekatan studi kasus dilakukan untuk memahami suatu peristiwa atau kesempatan dan hubungan mereka dengan orang-orang yang berada dalam situasi tertentu. Studi kasus ini digunakan peneliti untuk melakukan penelitian tentang Makna Tradisi Tarian Lulo Suku Tolaki Dalam Pandangan Agama Buddha dalam lingkup Vihara Buddha Metta dan Vihara Sariputra di MoramoHasil penelitian menemukan bahwa: (1) tradisi tari Lulo dilaksanakan setelah panen padi sebagai ucapan rasa syukur tetapi sekarang tradisi tari Lulo dilaksanakan setiap acara besar seperti pernikahan, penyambutan tamu dan di hari memperingati kemerdekaan. Tari Lulo diturunkan dari generasi kegenerasi yang dianggap sebagai warisan budaya, (2) makna tari Lulo suku Tolaki dalam pandangan agama Buddha meliputi penghormatan, keyakinan, pluralisme, dan toleransi. Tradisi tari Lulo sudah berlangsung cukup lama yang perlu dipertahankan sebagai simbol dan identitas masyarakat moramo, folklor dalam tradisi Lulo dapat sebagai alat pendidikan bagi pemuda agar tetap menjaga hubungan baik antar masyarakat dan menjaga warisan nenek moyang yang sudah dilakukan secara turun temurun.
PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP GENERASI MUDA BUDDHIS SEBAGAI ASET STRATEGIS SUMBER DAYA MANUSIA MASA DEPAN Puspita Dewi, Metta
Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2025): Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI JAWA TENGAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/bahusacca.v6i2.2438

Abstract

The younger generation of Buddhists faces vulnerabilities in terms of education, religious identity, and life skills. This study aims to describe how the Pusdiklat Bodhidharma Pusat Semarang (PBPS) manages value-based life skills to develop a talent pipeline for the next generation of Buddhists as strategic assets for the future. This qualitative research uses a case study of PBPS students. Data were collected through interviews, observation, and documentation. Data were analyzed through reduction, presentation, and drawing conclusions using triangulation of sources and techniques. The findings demonstrate 1) planning based on environmental analysis by integrating the potential of foster children and donors; 2) implementation of life skills, including personal skills (practicing noble morals, discipline, and simplicity); social skills (teamwork and conflict management); academic skills (wall magazines, devotional services, and Sunday school); vocational skills (event organizing, agriculture, wedang uwuh entrepreneurship, and crafts); and 3) control through value-based evaluation. The findings broaden the perspective of skills into the process of forming value-based human and social capital. Practical implications of formulating a SAFE (sequenced, active, focused, and explicit) program design, senior mentoring of juniors, digital self-regulation, and ethical entrepreneurship relevant to the concept of right livelihood (sammaajiva).