Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ronggeng: Genealogi Perempuan Penari Dari Masa Kolonial Hingga Era Mutakhir S.Sn., M.Sn., Masyuning; Atang Suryaman; Pepep Didin Wahyudin
Paraguna Vol 12 No 1 (2025): MUSIC AS PERFORMING ART
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the current discourse of performing arts, ronggéng has been specified or narrowed down to mean only female dancers. The opposite of ronggéng is known as "pamogoran" or men from the audience who join in the dancing and also give money to the ronggéng. Based on a phenomenological perspective with a discussion of interactive time boundaries, combining synchronic and diachronic time boundaries, it can be concluded that historically, the female body in Ronggéng's identity has been distorted since colonialism. Ronggéng, which is synonymous with a sacred body in the life of an agrarian society, has been drawn into the industrial dimension by the interests of colonialism. Since then, a new image has been created that is synonymous with a negative stigma towards the bodies of women dancers, especially Ronggéng, which is associated with sexuality. In recent times, female dancers have emerged who "fight" against this stigma by making themselves not only a manageable dancer, but metamorphosing into a dancer as well as a leader, creating new dance ideas.
PELESTARIAN SENI BUDAYA MELALUI PELATIHAN GAMELAN DEGUNG DAN PUPUH DI SDN CIBADAK 03 Anggana, Rina Dewi; Atang Suryaman; Muhamad Dimas Aji Ibrahim
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i2.16197

Abstract

SDN Cibadak 03 merupakan salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang pernah unggul dalam pelestarian seni budaya terutama dari tahun 2015 hingga tahun 2019. Potensi seni yang dimiliki saat itu meliputi seni Pantomim, dongeng maupun sekar pupuh, yang ditunjukan dengan prestasi kejuaraan tingkat Kecamatan maupun tingkat Kabupaten. Potensi lainnya adalah memiliki tim kesenian degung yang beranggotakan para siswa siswi terpilih. Namun selama lima tahun terakhir, potensi tersebut mengalami kemunduran. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakan di bawah naungan LPPM ISBI Bandung ini, tim pelaksana berupaya memberikan pelayanan berupa pelatihan gamelan degung dan pupuh, dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi seni guru dan siswa dalam menabuh gamelan degung dan menyajikan sekar pupuh serta membentuk tim seni sekolah yang mandiri dan berkelanjutan, agar kehidupan Seni Sunda di sana tetap lestari. Metode yang digunakan ialah Participatory Action Research (PAR), dengan tahapan sosialisasi, pelatihan, penetapan teknologi, pendampingan, evaluasi, serta keberlanjutan program. Melalui pelatihan tersebut, para guru dan siswa memiliki kemampuan dalam menabuh gamelan degung dan menyajikan sekar pupuh dengan baik, memiliki tim kesenian upacara adat Sunda, dan tim rampak sekar pupuh yang telah ditampilkan dalam panggung seni P5 sekaligus perpisahan kelas IV periode 2025, siap ditampilkan dalam event sekolah lainnya, bahkan kembali berprestasi di bidang sekar pupuh.