Wardani, Dinar Kusuma
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANALGESIA PASCAOPERASI BLOK SUBKOSTAL TRANSVERSUS ABDOMINIS (STA) DENGAN OPIOID INTRAVENA PADA PASIEN OPERASI LAPAROSKOPI KOLESISTEKTOMI DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR Wardani, Dinar Kusuma; Sidemen, I.G.P.Sukrana; Hartawan , I.G.A.G. Utara; Widnyana, I Made Gede; Parami, Pontisomaya; EM, Tjahya Aryasa; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27260

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan efektivitas antara blok STA dengan opioid intravena sebagai analgesia pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini merupakan sebuah uji coba prospektif, acak, terkendali dan single-centered. Sebanyak 60 subjek pasien yang menjalani tindakan operasi laparoskopi dibagi menjadi 2 kelompok denganpemberian tindakan STA dan tanpa STA. Analisis data dillakukan dengan bantuan SPSS versi 36 meliputi uji Chi Square, independent t tets dan Mann Whitney. Hasil penelitian bahwa Blok STA pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi memiliki intensitas nyeri dengan NRS pada jam ke 6, 12 dan 24 lebih rendah dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan opioid intravena dengan nilai p<0,001. Blok STA memiliki total waktu pemberian analgesik rescue pertama 6,67±2,39 jam dan tanpa STA 1,87±0,81 jam dengan perbedaan 4,80 jam (IK95% 3,87-5,72; p<0,001). Blok STA memiliki jumlah muntah dalam 24 jam dengan rerata 0,50±0,97 kali dan tanpa STA 3,27±1,79 kali dengan perbedaan 2,76 kali (IK95% 2,01-3,51; p<0,001). Blok STA memiliki hasil NLR dengan rerata 2,52±1,71 dan tanpa STA 4,64±2,90 dengan perbedaan 2,12 (IK95% 0,89-3,35; p=0,001). Nilai NLR antara sebelum dan sesudah kelompok STA menurun sebesar 1,27±2,64 sedangkan kelompok tanpa STA meningkat rerata 1,33±1,87 dengan perbedaan 2,61 (IK 1,43-3,80; P<0,001). Tindakan blok STA dapat menurunkan efek nyeri, mual-muntah dan durasi analgetik lebih panjang dengan nilai NLR lebih rendah pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi dibandingkan dengan tanpa STA.
CONSIDERATION IN GENERAL ANESTHESIA TOWARDS PATIENT WITH SCHIZOPHRENIA TREATMENT: A CASE REPORT OF PSYCHIATRY-ANESTHESIOLOGY APPROACH Torrys, Yesyurun Sekundus; Wardani, Dinar Kusuma; Charles, Charles; Sutawan, Ida Bagus Krisna Jaya; Wardani, Ida Aju Kusuma
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10581

Abstract

ABSTRACT Anesthetic management in patients with schizophrenia receiving long-term antipsychotic therapy presents a clinical challenge due to the risk of drug interactions and perioperative complications, including hypotension, arrhythmias, and postoperative delirium. This study aimed to describe perioperative anesthetic management in a schizophrenic patient undergoing elective surgery. The study used a case report approach involving a 43-year-old female patient with left breast cancer and a history of undifferentiated schizophrenia treated with long-term fluphenazine and trifluoperazine therapy. Management included preoperative evaluation, intraoperative anesthesia planning, and postoperative monitoring. The patient underwent general anesthesia using propofol, fentanyl, and atracurium with close hemodynamic monitoring. The results showed that laboratory tests, ECG, and echocardiography were within normal limits, although intraoperative hypotension during induction and mild tachycardia during surgery were observed and successfully controlled without serious complications. Postoperative findings included mild agitation, postural hypotension, and shivering without delirium or severe cardiovascular disturbances. These findings indicate that comprehensive perioperative evaluation and individualized anesthetic strategies are essential to maintain patient stability and ensure surgical safety in schizophrenic patients receiving long-term antipsychotic therapy. ABSTRAK Manajemen anestesi pada pasien skizofrenia dengan terapi antipsikotik jangka panjang menjadi tantangan klinis karena risiko interaksi obat dan komplikasi perioperatif, seperti hipotensi, aritmia, dan delirium pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tata laksana anestesi perioperatif pada pasien skizofrenia yang menjalani operasi elektif. Metode yang digunakan berupa laporan kasus pada pasien perempuan usia 43 tahun dengan kanker payudara kiri dan riwayat skizofrenia undifferentiated yang mendapat terapi fluphenazine dan trifluoperazine jangka panjang. Penatalaksanaan meliputi evaluasi praoperatif, anestesi intraoperatif, dan pemantauan pascaoperatif. Pasien menjalani anestesi umum menggunakan propofol, fentanyl, dan atracurium dengan pemantauan hemodinamik ketat. Hasil menunjukkan pemeriksaan laboratorium, EKG, dan ekokardiografi dalam batas normal, dengan komplikasi intraoperatif berupa hipotensi saat induksi dan takikardia ringan yang dapat dikendalikan tanpa komplikasi serius. Pascaoperasi ditemukan agitasi ringan, hipotensi postural, dan menggigil tanpa delirium maupun gangguan kardiovaskular berat. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi perioperatif yang komprehensif dan strategi anestesi terindividualisasi penting untuk menjaga stabilitas pasien skizofrenia selama tindakan pembedahan.