Sutiyana Fachruddin, Abdul Wahid Sulistia, Muh. Najib Husain
Journal Ilmu KOMUNIKASI UHO

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGGUNAAN BAHASA JAWA NGOKO DAN KRAMA DI MASYARAKAT DESA LAMBUSA KECAMATAN KONDA KABUPATEN KONAWE SELATAN Sutiyana Fachruddin, Abdul Wahid Sulistia, Muh. Najib Husain
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 3, No 4 (2018): Edisi Oktober
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.005 KB) | DOI: 10.52423/jikuho.v3i4.5154

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko dan krama di masyarakat  Desa Lambusa Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan dan 2. Mengetahui bagaimana konteks penggunaan bahasa Jawa. Untuk mencapai tujuan dari penelitian ini digunakan teori relativitas linguistik (Sapir-Whorf dalam Littlejohn, 2009: 449). Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat  etnis Jawa di Desa Lambusa Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan berjumlah 2. 278 orang. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu memilih secara sengaja dengan mempertimbangkan bahwa informan yang bersangkutan mengetahui dan memahami betul inti permasalahan. Dengan jumlah informan sebanyak 10 orang. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan bahasa Jawa di masyarakat Desa Lambusa Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan terdapat dua ragam yang digunakan berdasarkan konteks komunikasi dan konteks status. Ragam yang digunakan yaitu ragam ngoko, dimana ragam ini digunakan oleh masyarakat  Desa Lambusa Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan pada lingkungan keluarga, dimana ragam ini lebih mudah dan lebih umum digunakan, selain ragam ngoko masyarakat Desa Lambusa menggunakan ragam krama, dimana tingkat tutur ini menandakan adanya tingkat segan, sangat menghormati, bahkan takut. Meskipun demikian ragam krama jarang digunakan oleh masyarakat Desa Lambusa. Kedua ragam ini, digunakan dalam konteks komunikasi meliputi konteks formal, informal, dan nonformal sedangkan konteks status meliputi usia dan jabatan penutur dan mitra tutur.Â