Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Rhetoric of Preaching by Ustadz Yusuf Mansur: Inspiring the Spirit of Almsgiving Through YouTube Daqu Channel: Retorika Dakwah Ustadz Yusuf Mansur: Menggerakkan Semangat Sedekah Melalui YouTube Daqu Channel Abdul Manan Nasution
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 2 No. 1 (2024): January-June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v2i1.8437

Abstract

Ustadz Yusuf Mansur adalah seorang pendakwah yang sempat viral di media sosial karena video ceramahnya yang selalu menekankan keajaiban sedekah. Melalui retorika dakwah, ia berhasil mendorong jamaahnya untuk berinvestasi uang atas nama sedekah. Penelitian ini mengkaji retorika dakwah Ustadz Yusuf Mansur dalam menginspirasi semangat sedekah melalui YouTube Daqu Channel. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis berdasarkan teori retorika dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga video ceramah tentang sedekah yang dianalisis, gaya bahasa yang paling sering digunakan oleh Ustadz Yusuf Mansur adalah gaya bahasa percakapan. Gaya bahasa khas yang digunakan dalam ceramah tentang sedekah termasuk gaya bahasa penegasan, dengan varian dominan seperti klimaks, anti klimaks, paralelisme, dan antitesis. Selain itu, ada empat jenis langgam yang digunakan dalam video ceramahnya, yaitu langgam agama dan langgam percakapan. Dalam penyusunan pesan, ditemukan tiga jenis komposisi pidato yang digunakan oleh Ustadz Yusuf Mansur dalam video ceramahnya, yaitu kesatuan, pertautan, dan titik berat. Bentuk imbauan motivasional dan imbauan ganjaran (reward) adalah yang paling sering digunakan oleh Ustadz Yusuf Mansur.   Ustadz Yusuf Mansur is a preacher who went viral on social media because of his video lectures that always emphasize the miracle of alms. Through preaching rhetoric, he succeeded in encouraging his congregation to invest money in the name of alms. This study examines Ustadz Yusuf Mansur's da'wah rhetoric in inspiring the spirit of almsgiving through the YouTube Daqu Channel. The method used is a descriptive analysis based on the theory of da'wah rhetoric. The results showed that of the three video lectures on almsgiving analyzed, the language style most often used by Ustadz Yusuf Mansur is conversational. Typical language styles used in lectures on almsgiving include affirmation language styles, with dominant variants such as climax, anti-climax, parallelism, and antithesis. In addition, there are four types of styles used in his video lectures, namely religious styles and conversational styles. In the arrangement of messages, Ustadz Yusuf Mansur uses three types of speech composition in his video lectures: unity, linkage, and emphasis. Ustadz Yusuf Mansur most often uses forms of motivational appeals and appeals for rewards.
MENTERI BAHLIL DALAM RUANG DIGITAL: KONSTRUKSI CITRA BAHLIL PADA MEME POLITIK DI MEDIA SOSIAL TIKTOK Nisa Afifah; Abdul Manan Nasution
DECODING: Jurnal Mahasiswa KPI Vol. 6 No. 2 (2026): Januari-Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/decoding.v6i2.11281

Abstract

Konektivitas media sosial yang semakin mutakhir memunculkan sebuah fenomena media baru berupa meme sebagai alat komunikasi yang menggunakan infrastruktur digital interaktif. Pada konteks ini, meme digunakan tidak hanya untuk hiburan tetapi juga sebagai alat untuk penggambaran digital dan pembangunan citra tokoh-tokoh terkemuka, seperti tokoh politik. Penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis bagaimana citra Menteri Bahlil Lahadalia direpresentasikan melalui meme politik yang beredar dalam ruang digital TikTok. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan Analisis penelitian ini menggunakan teori Representasi Stuart Hall dengan meme politik di media sosial TikTok dipahami sebagai praktik representasi yang memanfaatkan elemen visual dan teks yang bersifat humoristik maupun satir dalam membentuk citra tokoh politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme mengonstruksi citra politik Menteri Bahlil melalui interaksi tanda visual dan teks yang menghasilkan makna humor, satir, dan tidak objektif, sebagaimana dijelaskan oleh Stuart Hall. Selain itu, meme menjadi praktik komunikasi politik digital yang memungkinkan publik secara kolektif membentuk dan menegosiasikan citra tersebut di media sosial seperti TikTok.