Surabaya memiliki peminat Seni Rupa Kontemporer yang cukup banyak sehingga terdapat beberapa seniman dan komunitas, serta jurusan seni rupa di perguruan tinggi Surabaya. Hal tersebut memunculkan beberapa galeri seni di Surabaya, namun dari segi kapasitas hingga fasilitas kurang memadai, baik dari galeri khusus maupun umum untuk menampung hasil karya para komunitas maupun seniman. Selain itu, masih terdapat beberapa galeri seni yang masih dilaksanakan di fasilitas umum seperti mall maupun menyewa ruko. Oleh karena itu, dari permasalahan diatas diperlukannya perencanaan dan perancangan Galeri Seni Rupa Kontemporer di Kota Surabaya dengan tema Arsitektur Kontemporer. Metode pendekatan desain pada tema Arsitektur Kontemporer menggunakan teori dari Egon Schimbeck, yang memunculkan beberapa ciri-ciri dari arsitektur kontemporer yang diaplikasikan pada konsep mikro pada Bentuk. Dengan menggunakan metode jenis kualitatif yang mendeskripsikan dan menganalisis terkait dengan judul dan tema melalui Observasi, Dokumentasi, Kuisioner, dan Kepustakaan. Studi banding yang diakukan antara lain di Galeri Prabangkara, Vinautism Art Gallery, Galeri Nasional Indonesia, Selasar Sunaryo Art Space, and the Chinese Tujia Pan-Museum Complex. Konsep Mikro Bentuk “Ekspresif” yang ditinjau dari permasalahan galeri seni pada study objek lapangan dan literatur memiliki bentuk yang kurang mencerminkan galeri seni serta monoton. Dengan adanya Perencanaan dan Perancangan Galeri Seni Rupa Kontemporer menggunakan tema Arsitektur Kontemporer, diharapkan dapat mencerminkan Galeri Seni Rupa Kontemporer itu sendiri.