Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Flavonoid Bahan Alam Sebagai Anti-HIV Guna Mengatasi Darurat Infeksi HIV di Indonesia Azriz, Helena; Ibrahim, Raihan Syah; Maulana, Rafi; Rita, Rauza Sukma
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2024): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i2.14678

Abstract

Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection is an unresolved health problem in various countries. Indonesia is rich in various potential natural resources and is able to support the development of HIV therapy through the use of bioactive components from plants, one of which is flavonoid compounds which need to be investigated for their potential anti-HIV activity. Objective: To determine the anti-HIV potential of natural compound flavonoids. Method: The method used is a narrative literature review, with literature collection obtained from PubMed, ScienceDirect and Google Scholar. The selected articles are those published in the last ten years (2013-2022) and full text is available. Result and Discussion: 24 articles included related to flavonoid and HIV. Indonesia is in an emergency situation for HIV infection, antiretroviral drugs (ARV) can only inhibit the development of the virus, but do not kill the virus directly. The antiviral potential of flavonoid compounds makes this substance an opportunity to be studied in HIV infection. The flavonoid subclasses myricetin, herbacitrin, and chalcone have the best anti-HIV activity. The natural ingredient that has the highest flavonoid such as sea fern spores, dragon fruit with a content of 0.14 - 0.15 mg/g, Moringa leaves with a content of 7.79 mg/g, and cinnamon with a fairly high content. Conclusion: Flavonoids have anti-HIV potential with different mechanisms according to the type of flavonoid compounds contained. Flavonoids are mostly contained in sea fern spores, and are also found in dragon fruit, cinnamon and Moringa leaves, which are natural ingredients that are easily available every day.   Latar Belakang: Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah kesehatan yang belum terselesaikan pada berbagai negara di dunia. Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai sumber daya alam yang potensial dan mampu mendukung pengembangan terapi HIV melalui pemanfaatan komponen bioaktif dari tumbuhan, salah satunya adalah senyawa flavonoid yang perlu ditelitipotensi aktivitas anti-HIVnya. Tujuan: Mengetahui potensi anti-HIV dari senyawa flavonoid bahan alam Metode: Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif, dengan pengumpulan literatur dilakukan melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel yang dipilih adalah yang terbit sepuluh tahun terakhir (2013-2022) dan tersedia full text. Pembahasan: 24 artikel didapatkan membahas flavonoid dan kaitannya pada HIV. Indonesia berada dalam kondisi darurat infeksi HIV, obat antiretroviral (ARV) hanya dapat menghambat perkembangan virus, namun tidak membunuh virus secara langsung. Adanya potensi antivirus dari senyawa flavonoid menjadikan zat ini berpeluang untuk diteliti pada penyakit infeksi HIV. Flavonoid subkelas myricetin, herbacitrin, dan kalkon memiliki aktivitas anti-HIV yang paling baik. Bahan alam yang mempunyai kandungan flavonoid tertinggi di antaranya spora paku laut, buah naga dengan kandungan sebesar 0,14 – 0,15 mg/g, daun kelor dengan kandungan sebesar 7,79 mg/g, dan kayu manis dengan kandungan cukup tinggi. Kesimpulan: Flavonoid memiliki potensi anti-HIV dengan mekanisme yang berbedabeda sesuai dengan jenis senyawa flavonoid yang terkandung. Flavonoid paling banyak terkandung dalam spora paku laut, serta juga ditemukan pada buah naga, kayu manis, dan daun kelor yang merupakan bahan alam yang mudah didapatkan sehari-hari.
Potensi Probiotik Lactobacillus casei dari Dadih Yogurt Minangkabau untuk Restorasi Mikrobiota Usus pada Irritable Bowel Syndrome : Sebuah Tinjauan Literatur Rifqi Al Azim, Muhammad; Azriz, Helena; Fauziah, Rizka
PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan
Publisher : LPPM STIKES Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47506/z909he94

Abstract

Pendahuluan : Sindrom iritasi usus atau yang biasa disingkat dengan IBS adalah gangguan fungsional pencernaan yang ditandai dengan gejala nyeri perut yang berulang dan perubahan kebiasaan buang air besar (misalnya sembelit, diare, atau keduanya), yang sering disertai perut kembung. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Literature Review. Penelitian dilakukan dengan melakukan pencarian di internet menggunakan mesin pencarian jurnal. Mesin pencarian jurnal yang digunakan pada penelitian ini meliputi Pubmed, Google Scholarr, Science Direct, dengan kata kunci: “Mikrobiota usus, Sinbiotik, Dadih, Irritable Bowel Syndrome”. Hasil : Hasil yang didapatkan dari penelusuran e-resources Google Scholar sebanyak 204 PubMed NCBI sebanyak 90, dan  ScienceDirect sebanyak 10. Dari total    artikel tersebut, dilakukan eksklusi terhadap beberapa artikel yang terduplikasi pada database yang berbeda. Setelahdilakukan screening terhadap judul dan abstrak, ditemukan sebanyak 7 artikel yang berkaitan dengan topik yang akanditeliti serta memenuhi kriteria inklusi. Kesimpulan : Interaksi antara sistem imun, mikrobiota usus, dan genotipe inang diduga mendasari patogenesis IBS, berupa terjadinya ketidakseimbangan mikrobiota usus. Lactobacillus casei asal dadih dapat digunakan sebagai terapi alternatif IBS yang minimal efek samping karena bersifat probiotik.