Pambayun, Adila
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tubuh, Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa Naomi Wolf The Beauty Myth Pambayun, Adila
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol. 9 No. 2 (2025): Volume 9 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/5mh5s483

Abstract

Penelitian ini mengkaji tokoh Ratu Wasti dalam Kitab Ester sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi patriarki, dengan menyoroti peran konstruksi sosial atas kecantikan perempuan melalui perspektif Naomi Wolf. Dalam narasi Alkitab, penolakan Wasti untuk mempertontonkan kecantikannya di depan publik menjadi titik awal pembacaan kritis terhadap relasi kuasa antara tubuh perempuan dan sistem kerajaan yang bersifat patriarkal. Menggunakan teori The Beauty Myth dari Naomi Wolf, studi ini menafsirkan kecantikan sebagai alat kontrol yang dilegitimasi oleh struktur sosial dan budaya, di mana tubuh perempuan dikomodifikasi dan dikendalikan demi kepentingan laki-laki dan kekuasaan. Wasti, yang menolak menjadi objek tontonan, muncul sebagai figur resistensi terhadap mitos kecantikan dan norma gender yang menindas. Dengan pendekatan hermeneutika feminis, artikel ini bertujuan menggugat normalisasi kontrol atas tubuh perempuan dalam teks-teks keagamaan dan budaya populer, serta mengangkat Ratu Wasti sebagai ikon pembebasan yang relevan bagi perjuangan perempuan masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Wasti merupakan bentuk dekonstruksi terhadap sistem nilai yang menempatkan kecantikan sebagai alat subordinasi perempuan. Sikapnya menegaskan bahwa tubuh perempuan memiliki otonomi dan martabat yang tidak dapat dinegosiasikan oleh kuasa patriarkal. Bagi perempuan masa kini, pelajaran dari Wasti adalah pentingnya mendefinisikan ulang makna kecantikan dan privilege yang menyertainya. Kecantikan tidak boleh menjadi alat untuk menindas, melainkan ekspresi kebebasan dan kekuatan.