Abstract This study analyzes the phenomenon of violent motor vehicle theft that occurs in Sungai Rengas Village, Kalimantan. This village has geographical characteristics that make it prone to crime, with many villages being targets of criminal action. The main focus of this study is to understand the factors that influence the occurrence of this crime and the role of legal institutions in overcoming it. The method used in this study is qualitative with a descriptive approach, using triangulation techniques in the form of interviews, observations and documentation. The results of the study indicate that the perpetrator, whose initials are S, committed the crime because of economic difficulties and did not have a permanent job. The perpetrator planned to steal a motor vehicle with violence in order to get money to return to his hometown. In this case, the perpetrator abused the victim and seized the victim's motorbike, which would then be sold to get money. Based on the Anomie theory, this condition reflects the inability of individuals to achieve their desired social goals, due to limited available resources. The perpetrator feels isolated and depressed, so he chooses to commit criminal acts as a way to overcome economic difficulties. Low education factors, as well as the difficulty of getting a job also play a major role in encouraging crime. The pressure to meet the needs of life and the desire to return to their hometown worsen the situation of the perpetrators, who see theft as a way out. Thus, this study shows that violent motor vehicle theft crimes in Sungai Rengas are influenced by various internal and external factors, with economic conditions as the main factor driving the occurrence of these criminal acts. Keywords: motor vehicle theft; criminology; anomie Abstrak Penelitian ini menganalisis fenomena pencurian kendaraan bermotor dengan kekerasan yang terjadi di Desa Sungai Rengas, Kalimantan. Desa ini memiliki karakteristik geografis yang membuatnya rawan terhadap kejahatan, dengan banyak perkampungan yang menjadi target aksi kriminal. Focus utama penelitian ini adalah untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kejahatan tersebut dan peran lembaga hukum dalam penanggulangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, menggunakan Teknik triangulasi berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku, yang berinisial S, melakukan tindak kriminal karena kesulitan ekonomi dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Pelaku merencanakan untuk mencuri kendaraan bermotor dengan kekerasan agar mendapatkan uang untuk biaya pulang kampung. Dalam kasus ini, pelaku menganiaya korban dan merampas sepeda motor korban, yang kemudian akan dijual untuk memperoleh uang. Berdasarkan teori Anomie, kondisi ini mencerminkan ketidakmampuan individu dalam mencapai tujuan sosial yang diinginkan, karena keterbatasan sumber daya yang tersedia. Pelaku merasa terisolasi dan tertekan, sehingga memilih untuk melakukan Tindakan kriminal sebagai cara untuk mengatasi kesulitan ekonomi. Fakktor Pendidikan yang renda, serta sulitnya memperoleh pekerjaan juga berperan besar dalam mendorong terjadinya kejahatan. Tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keinginan untuk pulang ke kampung halaman memperburuk situasi pelaku, yang melihat pencurian sebagai jalan keluar. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa kejahatan pencurian kendaraan bermotor dengan kekerasan di Sungai Rengas dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, dengan kondisi ekonomi sebagai faktor utama yang mendorong terjadinya Tindakan kriminal tersebut. Kata Kunci: pencurian kendaraan bermotor; kriminologi; anomi