Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Pembinaan Keagamaan Terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan Di Lembaga Pemasyarakatan Negara Kelas II A Atiri Laode, Dimas Satria; Salsabila, Wd Syafitri
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 3 No 1: Februari (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v3i1.325

Abstract

Pembinaan keagamaan yang dimaksud dalam artikel ini adalah bimbingan atau tuntunan yang diberikan oleh pemuka agama (yang ahli dalam bidang agama) dan juga petugas pemasyarakatan kepada para warga binaan pemasyarakatan melalui program-program keagamaan yang ada di Lapas sesuai dengan UU. Kegiatan keagamaan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan para warga binaan pemasyarakatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual sikap dan perilaku sehingga warga binaan pemasyarakatan memiliki karakter yang lebih baik dan bias kembali diterima di masyarakat. Adapun warga binaan yang dimaksud adalah narapidana/tahanan yang beragama Islam dan Kristen yang mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan di Lapas Kelas II A Kendari, Sulawesi Tenggara. Permasalahan dalam penelitian ini ialah menganalisis program pembinaan dalam bentuk bimbingan keagamaan dan melihat factor pendukung serta penghambat pada proses pembinaan keagamaan. Metode pembinaan keagamaan antara lain program pembinaan kepribadian berupa kesadaran beragama, kemudian pembinaan secara jasmani dan rohani, metode ceramah, metode pembinaan secara kelompok (guidance group), serta metode pembinaan secara individual (Client centered Method). Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan pembinaan keagamaan dimana pemberian ceramah, sholat berjamaah, pendalaman kitab, melakukan zikir dan doa bersama. Dampak dari kegiatan yang dilakukan yaitu perubahan dan perkembangan yang dialami oleh warga binaan pemasyarakatan, dimana dengan shalat berjamaah para warga binaan terlihat lebih kompak karena melaksanakan secara bersama-sama. Kemudian efek dari dzikir, pada umumnya bahasa yang digunakan warga binaan ialah bahasa dan tutur kata yang bermakna kasar, setelah mengikuti pembinaan ini ada perubahan-perubahan terhadap kalimat yang diucapkan. Selanjutnya dalam diskusi keagamaan warga binaan lebih terbuka bertanya dan memberikan pandangannya. Melalui kelas belajar warga binaan lebih kritis dan berdiskusi
PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROGEL-NANO MATERIAL UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS CABAI PADA TANAH SALIN MELALUI KEMITRAAN MASYARAKAT DI PULAU BAHO, SULAWESI TENGGARA Salsabila, Wd Syafitri; Oge, La; Supriyadi, Supriyadi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36832

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Pulau baho terletak di Desa Labuan Beropa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pulau Baho masih 1 daratan dengan  laonti akan tetapi tidak adanya akses darat sehingga akses menuju dusun Baho menggunakan perahu. Sebagian besar dari masyarakatnya adalah nelayan yang sangat tergantung pada ekosistem pesisir. Kondisi perairan yang kadang tidak bersahabat menyebabkan nelayan sering menunda penangkapan ikan sehingga mempengaruhi pendapatan perekonomian. Dusun Baho umumnya memiliki tanah dengan tekstur pasir, berkadar garam dan rendah unsur hara.  Oleh sebab itu, lahan dikawasan pesisir Baho dapat dikatakan tidak dapat memberikan kontribusi pendapatan dari sektor pertanian bagi penghuninnya. Pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat dusun baho khususnya kelompok “Gold Mom’ yang beranggotakan 20orang melalaui penerapan teknolgi hidrogel-nanomaterial dalam budidaya cabai pada tanah salin dengan waktu kegaitan selama 8 bulan. Budidaya tanaman pangan seperti cabai merupakan produk holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi yang bersifat multiguna, karena dapat digunakan  sebagai bahan pangan maupun obat-obatan. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan budidaya, pengolahan pasca panen (Saus sambal dan cabai bubuk), Pembentukan kelompok tani serta manajemen usaha tani yang mandiri. Metode pelaksanaan terdiri dari sosialisasi, pelatihan teknis, penerapan teknologi, pendampingan kelompok hingga evaluasi berkelanjutan. Luaran yang ditargetkan meliputi meningkatnya keterampilan masyarakat dalam budidaya dan pengolahan cabai, terbentuknya kelompok tani, serta publikasi jurnal. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dan model usaha tani cabai berbabsis inovasi yang berkelanjutan.  Hasil kegiatan penerapan teknologi untuk peningkatan pertumbuhan tanaman cabai menunjukkan ada peningkatan 50-70% dibanding tanaman yang tidak menggunakan Hodrogel-Nano dan juga adanya kegiatan baru bagi kelompok ibu-ibu di dusun baho Hasil kegiatan penyuluhan dan pelatihan menunjukkan ada peningkatan pemahaman masyarakat dalam penanaman cabai dan juga pascapanen.Kata Kunci: Teknologi Hidrogel-Nano Material, Budidaya Cabai, Pemberdayaan Masyarakat, Pascapanen. ABSTRACTBaho Island is located in Labuan Beropa Village, Laonti District, South Konawe Regency, Southeast Sulawesi. Baho Island shares a landmass with Laonti, but there is no land access, so access to Baho Hamlet is by boat. Most of the residents are fishermen who depend heavily on the coastal ecosystem. The sometimes unfriendly water conditions often cause fishermen to postpone fishing, which impacts their income. Baho Hamlet generally has sandy soil with a high salt content and low nutrient content. Therefore, the land in the Baho coastal area can be said to be unable to contribute to agricultural income for its residents.  This community service aims to empower the Baho hamlet community, especially the 20-member "Gold Mom" group, through the application of hydrogel-nanomaterial technology in chili cultivation on saline soil with an activity period of 8 months. Cultivation of food crops such as chili is a horticultural product with high economic value that is multipurpose, because it can be used as food and medicine. In addition, this program also includes training in cultivation, post-harvest processing (chili sauce and chili powder), the formation of farmer groups and independent farming business management. The implementation method consists of socialization, technical training, technology application, group mentoring to continuous evaluation. Targeted outputs include increasing community skills in chili cultivation and processing, the formation of farmer groups, and journal publications. The expected long-term impact is increased economic independence of coastal communities and a chili farming business model based on sustainable innovation. The results of the application of technology to increase chili plant growth show a 50-70% increase compared to plants that do not use Hydrogel-Nano and also the creation of new activities for mothers' groups in Baho hamlet. Results of extension activities  The training demonstrated an increase in community understanding of chili cultivation and post-harvest management.Keywords: Hydrogel-Nano Material Technology, Chili Cultivation, Community Empowerment, Post-Harvest.