Sari, Manya Deptiana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Bahasa Simbol Identitas Diri Komunitas Punk di Kota Padang Novanda, Yudha; Erianjoni, Erianjoni; Sari, Manya Deptiana
Jurnal Perspektif Vol 7 No 2 (2024): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v7i2.669

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna bahasa simbol identitas diri komunitas Punk di Kota Padang. Kajian ini menarik karena, antara anggota komunitas Punk di Kota Padang memiliki cara tersendiri dalam berinteraksi antara sesama komunitasnya. Hal tersebut menjadi fenomena dalam mengetahui identitas diri antara komunitas Punk di Kota Padang, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik yang dijelaskan oleh Hebert Blumer. Metode yang digunakan adalah pendekatan Kualitatif dengan tipe penelitian interaksionisme simbolik. Teknik pemilihan informan penelitian menggunakan teknik Snowbal sampling dengan jumlah informan 10 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles, dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simbol yang digunakan oleh para anggota komunitas Punk dalam pola interaksi sosial yaitu: Pertama Bahasa verbal; (1). simbol menanyakan kabar “Rencong-marencong”; (2). Simbol memberikan semangat (Oi-oi); (3). Simbol berkelana Ngestreet. Kedua bahasa non verbal; (1). Mengepalkan dan mengangkat tangan kiri ke atas mempunyai makna mengajak para anggota meneriaki Oi-oi dan memberikan semangat untuk memperjuangkan hak-haknya; (2). Mengenakan kalung rantai yang digembok mempunyai makna menandakan bahwa hubungan persahabatannya tidak akan pernah putus; (3) Mengenakan Patch/Emblem Band Punk dan Aksesoris Punk, mempunyai makna menandakan bahwa anggota Punk tersebut ter-influence dengan sudut pandang maupun ideologi yang dipakai oleh band tersebut.
Konservasi Budaya Seni Dendang Masyarakat Serawai Sari, Manya Deptiana; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.211

Abstract

Eksistensi seni dendang masyarakat Serawai sudah mulai terancam. Era modern saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan seni dendang sebagai hiburan di acara- acara adat seperti pernikahan, aqiqah ataupun sunat rasul serta generasi muda sudah kurang tertarik mempelajari seni dendang. Sehingga diperlukan adanya konservasi terhadap warisan budaya seni dendang masyarakat Serawai untuk pelestarian dan penyelamatan kesenian Serawai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan konservasi warisan budaya seni dendang yang dilakukan oleh Sanggar Tiga Serangkai di Desa Suka Bandung. Penelitian ini dianalisis dengan teori habitus dan modal budaya oleh Pierre Bourdieu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe penelitian studi kasus. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 12 orang dengan kriteria tokoh adat, pengurus sanggar, anggota sanggar, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen, serta menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan konservasi budaya yang dilakukan sanggar Tiga Serangkai agar eksistensi Seni Dendang Desa Suka Bandung tetap terjaga keberadaanya yaitu dengan: pertama mengenalkan seni dendang pada generasi penerus, kedua melatih generasi muda, ketiga melakukan pertunjukan melalui perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, keempat mempromosikan seni dendang di media sosial. Kelima mempersingkat waktu penampilan tanpa mengurangi makna. Implikasi penelitian ini mengusulkan agar konservasi warisan budaya seni dendang tidak hanya melibatkan generasi muda laki-laki tapi juga bisa melibatkan generasi muda perempuan.