Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH KISAH LAYLA MAJNUN TERHADAP BALADA CINTA MAJENUN KARYA GEIDURRAHMAN EL-MISHRY Mir'atul Hasanah
BARA AJI: Jurnal Keilmuan Bahasa Arab dan Pengajarannya Vol 1 No 01 (2023): BARA AJI: Jurnal Keilmuan Bahasa Arab dan Pengajarannya.
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52185/baraaji.v1i01.311

Abstract

Kisah Layla Majnun merupakan salah satu kisah yang sangat monumental. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis ini telah muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di negara-negara Islam Timur. Kisah ini sangat terkenal dan melegenda hingga mampu mempengaruhi banyak karya-karya sastra di seluruh dunia. Salah satu karya yang disinyalir terpengaruh oleh kisah ini adalah novel “Balada Cinta Majenun” karya Geidurrahman El-Mishry. Artikel ini mencoba untuk melihat sejauh mana keterpengaruhan novel “Balada Cinta Majenun” dengan kisah “Layla Majnun”. Artikel ini menggunakan metode deskriptif dalam memaparkan data-datanya. Dari penelitian ini ditemukan bahwa sangat jelas terlihat pengaruh kisah Layla Majnun terhadap terciptanya novel “Balada Cinta Majenun” karya Geidurrahman el-Mishry. Hal ini nampak jelas dari penyisipan kata “Majenun” dalam judul novelnya yang dimana kata “Majnun” ini sangat identik dengan kisah “Layla Majnun”. Hal ini juga mengingat bahwa novel ini bukanlah karya pertama yang terpengaruh oleh kisah monumental ini. Selain itu, ketika kita menelisik kepada penulis novel “Balada Cinta Majenun”. Perjalanan karir dan pendidikannya yang pernah ia jalani di Mesir tidak akan bisa membuat ia menjauh dari kesusastraan Arab. Ditambah dengan seringnya ia melakukan penerjemahan-penerjemahan karya sastra Arab ke Indonesia, ataupun sebaliknya. Dan hal yang paling menonjol dari semua itu adalah alur yang disajikan dalam novel ini memiliki beberapa kesamaan dengan kisah Layla Majnun. Sehingga ketika kita membacanya, kita akan tergambarkan kisah Layla Manjun tersebut. Meskipun mesti diakui bahwa novel ini juga memiliki beberapa sisi yang berbeda dari kisah Layla Majnun ini. Kata Kunci: Layla Majnun, Sastra Banding, Balada Cinta Majenun
KONSEP ISTIṬĀ’AH DALAM AL-QUR’AN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESIAPAN IBADAH HAJI DI KENDARI Muh Rezky Alsyah Ananta; Irdawati Saputri; Mir'atul Hasanah
EL-MAQRA' Vol 5 No 2 (2025): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v5i2.12380

Abstract

The Hajj pilgrimage is the fifth pillar of Islam, requiring istitha'ah (capability) asa mandatory prerequisite for pilgrims. This research aims to analyze the meaningof istitha'ah in the Qur'an and its implications for Hajj readiness amongprospective pilgrims in Kendari, Southeast Sulawesi. Employing a qualitativedescriptive-interpretive approach, the research integrates library research withcognitive semantic analysis of classical and contemporary Qur'anicinterpretations (Ibnu Katsir and Al-Qurthubi), semi-structured interviews with 15prospective pilgrims from Kendari, and analysis of hajj policy documents.Cognitive semantic analysis using Fillmore's frame semantics and Sperber-Wilson's relevance theory reveals that istitha'ah is a multidimensional conceptencompassing physical, mental, financial, and spiritual capabilities, distinct fromsynonyms like qudrah. Research findings show that Kendari pilgrims haveinternalized holistic understanding of istitha'ah yet face complex challenges:health issues affecting 73% of pilgrims with comorbidities, financial barriers withhajj costs of IDR 46.2 million against local income of IDR 3.5 million monthly,and temporal constraints with waiting lists reaching 14-38 years. Holisticunderstanding of istitha'ah increases pilgrimage satisfaction by 52%, whereasnarrow interpretation causes social exclusion. The novelty of this research lies inthe first integration of cognitive semantic analysis of the Qur'an with localempirical data, demonstrating that istitha'ah is a dynamic concept requiringresponsive policies aligned with pilgrims' socioeconomic realities to ensure moreinclusive hajj accessibility.