Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA SARKASME DI LINGKUNGAN MAHASISWA Ramadhani, Sindi Rahmalatul Ramadhani; Dwita Septiamanda Putri; Navilatur Rohma
Jurnal Lentera Edukasi Vol. 2 No. 2 (2024): Edisi Juni
Publisher : Bakti Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70305/jle.v2i2.51

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan yaitu agar dapat mengetahui penyebab terjadinya penggunaan bahasa sarkasme di dalam lingkungan perkuliahan mahasiswa. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Masalah mendasar yang menyebabkan penelitian ini dilakukan adalah bahasa sarkasme yang memiliki banyak arti saat digunakan bisa dalam ke sifat negatif, mengkritik, bentuk dari percakapan humor,dan bisa juga di anggap sebagai bentuk ketidak satuannya bahasa Indonesia yang sebenarnya, karena bahasa sarkasme ini dapat dinilai keterkaitannya dengan sistem nilai yang dapat menilai bahasa sarkasme pantas ataukah tidak untuk digunakan dalam lingkungan perkuliahan mahasiswa. Sedangkan masyarakat selalu menilai kepantasan suatu kata yang di cap sebagai kata yang buruk agar tidak digunakan di lingkungan masyarakat. Bahasa sarkasme yang sering digunakan oleh mahasiswa UNARS adalah setan,babi,anjing,monyet,mata,telinga,mulut,tai,tolol, dan gila. terjadinya penggunaan bahasa sarkasme di lingkungan perkuliahan mahasiswa disebabkan oleh adanya beberapa faktor. Berikut faktor yang mempengaruhi terjadinya penggunaan bahasa sarkasme dilingkungan perkuliahan mahasiswa yaitu sedang marah, emosi yang tidak stabil, bercanda sesama teman, kecewa dengan hal yang terjadi, serta terdapat faktor lingkungan dan faktor sosial yang dapat mempengaruhi penggunaan bahasa sarkasme dilingkungan perkuliahan mahasiswa. Dalam lingkungan masyarakat kecenderungan dalam penggunaan bahasa sarkasme terjadi pada anak- anak muda jaman sekarang, selain itu terjadinya penggunaan bahasa sarkasme ini menjadi pertanda bahwa dalam masyarakat indonesia adalah sebagai bangsa bagian timur yang selalu identik dengan kesatuannya serta lingkungan berbudaya nya yang tinggi sedang mengalami pemudaran akibat penggunaan bahasa sarkasme. Agar hal ini tidak terjadi, maka jangan membiarkan generasi muda dirusak oleh diri mereka sendiri yang menggunakan bahasa sarkasme, selain itu juga dapat merusak pembentukan karakter generasi muda yang telah menjadi harapan bangsa sampai saat ini.