The existence of death rites in the Nosu area, Mamasa, is often stigmatized as pagan worship amidst Christianity because it is a tribal religious ritual, Alu' Todolo, which, according to evangelists and local church institutions, is considered to be contrary to Christian teachings. There is no effort on the part of the church to dialogue and reconcile these rituals with Christian teachings. This research uses qualitative methods to search for the meaning or value of death rites using theological-anthropological studies, hoping that through this approach, the context can speak based on its own reality and perspective. These local policies will then be dialogued with understanding Christianity using Paul F. Knitter's Mutuality and Paul Tillich's Correlation models. It was found that death rites were a place of intense encounter and encounter between Christianity and Aluk Todolo in Mamasa. These encounters allow basic principles to be used as a common basis for interreligious dialogue. which can enrich the understanding of faith. AbstrakKeberadaan ritus kematian di wilayah Nosu, Mamasa, seringkali mendapat stigma penyembahan pagan di tengah Kekristenan karena merupakan ritual agama suku, Aluk Todolo, yang bagi penginjil dan juga pihak lembaga gereja setempat dinilai bertentangan dengan ajaran Kristen. Tidak ada upaya dari pihak gereja mendialogkan dan memperjumpakan ritual tersebut dengan ajaran Kristen. Riset ini menggunakan metode kualitatif untuk mencari makna atau value ritus kematian tersebut dengan kajian teologis-antropologis, dengan harapan melalui pendekatan tersebut maka konteks dapat berbicara berdasarkan realitas dan perspektifnya sendiri. Kebijakan lokal tersebut kemudian akan didialogkan dengan pemahaman Kekristenan dengan model Mutualitas Paul F. Knitter dan Korelasi Paul Tillich. Ditemukan bahwa ritus kematian merupakan tempat perjumpaan dan pertemuan secara intens antara agama Kristen dengan Aluk Todolo di Mamasa. Melalui perjumpaan tersebut maka ditemukan dasar-dasar yang dapat digunakan sebagai landasan bersama dalam dialog antaragama. yang darinya dapat memperkaya pemahaman iman. Â