Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RELEVANSI KONSEP AL-TA’LIM DAN TA’ALLUM SYED NAQUIB AL-ATTAS TERHADAP PENDIDIKAN INDONESIA Idlofi
Istifkar Vol 2 No 1 (2022): Istifkar: Media Transformasi Pendidikan
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/ji.v2i1.53

Abstract

Pendidikan merupakan aspek penting dalam mendukung kemajuan suatu Negara. Jika sumber daya manusia suatu bangsa unggul, maka akan dapat memanfaatkan dan mengolah Negara dengan baik menuju kemajuan yang diharapkan. Akan tetapi, pendidikan pada dewasa ini belum mampu mencetak sumber daya manusia yang mencerminkan hasil pencarian ilmunya. Pendidikan dewasa ini hanya mencetak sumber daya manusia yang memiliki gelar untuk mencapai tujuan pragmatis, seperti pekerjaan, jabatan dan lain sebagainya, belum sampai menyentuh pada core values dari pendidikan itu sendiri. Fenomena ini kemudian mendorong Syed Naquib al-Attas untuk menciptakan gagasan dalam pendidikan islam yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mana ‘ilm dan ‘amal berjalan secara beriringan. Gagasan tersebut dinamai dengan konsep ta’dib. Adapun hasil dari penilitan ini menurutnya Syed Naquib al-Attas yaitu bahwa pendidikan Islam pada dewasa ini telah banyak disusupi oleh nilai Barat yang sekuler, maka dari itu harus ada pembersihan dari unsur-unsur barat, yang kemudian ia sebut dengan islamisasi ilmu. Konsep ta’dib yang ditawarkan oleh Naquib memiliki perbedaa arti yang sangat mencolok dibanding hanya sebatas pendidikan, karena dengan ta’dib meliputi proses ‘ilmu dan amal.
Maqāṣid al-Sharī‘ah and the Prohibition of Incest in Indonesian Legislation: An Analysis of the Protection of Lineage and Public Morals Sukataman; Idlofi; Agung Nugroho Reformis Santono; Umar Chamdan
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/mnh.v19i2.14989

Abstract

The phenomenon of incestuous marriage in Indonesia continues to occur despite being strictly prohibited by Islamic law and national positive law. This paper discusses the issue of incest from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, highlighting how the principles of ḥifẓ al-nasab (protection of lineage) and ḥifẓ al-‘irḍ (protection of morality and honour) serve as the normative and ethical basis for the prohibition of incestuous marriage. This study uses a qualitative approach based on normative and comparative legal analysis of classical Islamic legal sources, national legislation such as the Marriage Law, KHI, and KUHP, and developing social phenomena. The results of the study show that the maqāṣid al-sharī‘ah approach uses ṣalah al-uṣūl al-khamsah, ḥifẓ al-nasl, to formulate the prohibition of incest. Ḥifẓ al-nasl consists of two elements: wujūd (productive) and 'adam (protective). The prohibition of incest is a form of protective behaviour, similar to the prohibitions of adultery and qażf. The application of maqāṣid al-sharī‘ah to positive law can offer new possibilities for Indonesian law, which is expected to encompass legal, social, and moral aspects.
RELEVANSI KONSEP AL-TA’LIM DAN TA’ALLUM SYED NAQUIB AL-ATTAS TERHADAP PENDIDIKAN INDONESIA Idlofi
Istifkar: Media Transformasi Pendidikan Vol 2 No 1 (2022): Istifkar: Media Transformasi Pendidikan
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/ji.v2i1.53

Abstract

Pendidikan merupakan aspek penting dalam mendukung kemajuan suatu Negara. Jika sumber daya manusia suatu bangsa unggul, maka akan dapat memanfaatkan dan mengolah Negara dengan baik menuju kemajuan yang diharapkan. Akan tetapi, pendidikan pada dewasa ini belum mampu mencetak sumber daya manusia yang mencerminkan hasil pencarian ilmunya. Pendidikan dewasa ini hanya mencetak sumber daya manusia yang memiliki gelar untuk mencapai tujuan pragmatis, seperti pekerjaan, jabatan dan lain sebagainya, belum sampai menyentuh pada core values dari pendidikan itu sendiri. Fenomena ini kemudian mendorong Syed Naquib al-Attas untuk menciptakan gagasan dalam pendidikan islam yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mana ‘ilm dan ‘amal berjalan secara beriringan. Gagasan tersebut dinamai dengan konsep ta’dib. Adapun hasil dari penilitan ini menurutnya Syed Naquib al-Attas yaitu bahwa pendidikan Islam pada dewasa ini telah banyak disusupi oleh nilai Barat yang sekuler, maka dari itu harus ada pembersihan dari unsur-unsur barat, yang kemudian ia sebut dengan islamisasi ilmu. Konsep ta’dib yang ditawarkan oleh Naquib memiliki perbedaa arti yang sangat mencolok dibanding hanya sebatas pendidikan, karena dengan ta’dib meliputi proses ‘ilmu dan amal.