Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM TERHADAP TINGKAT FEAR OF MISSING OUT (FOMO)(Studi Kuantitatif di RT 003/RW 003, Kelurahan Pekayon Jaya, Kota Bekasi) Bunga Puspitasari Sri Shaleha; Trisnawawati Kusumawardhani
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 9 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi September
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/d4z0j438

Abstract

Instagram telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat perkotaan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Pertumbuhan pengguna Instagram yang signifikan membawa dampak psikologis seperti Fear of Missing Out (FoMO), yang ditandai dengan kecemasan akibat merasa tertinggal dari aktivitas atau pengalaman sosial yang dilihat di media sosial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya penggunaan Instagram pada individu berusia 17–27 tahun di RT 003/RW 003, Kelurahan Pekayon Jaya, Kota Bekasi, kelompok yang rentan mengalami FoMO. Penelitian ini bertujuan meneliti apakah intensitas penggunaan Instagram, yang meliputi frekuensi, durasi, dan keterlibatan emosional, berkorelasi dengan tingkat FoMO di kalangan responden tersebut. Studi menggunakan metode kuantitatif dengan survei korelasional. Sebanyak 55 responden dipilih dengan teknik purposive sampling, lalu diminta mengisi kuesioner skala Likert guna mengukur kebiasaan menggunakan Instagram serta tingkat FoMO berdasarkan teori Przybylski. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan Instagram dengan tingkat FoMO pada responden penelitian. Artinya, semakin sering dan terlibat seseorang dalam menggunakan Instagram, kecenderungan mereka untuk merasakan FoMO juga semakin besar. Temuan ini memperkuat teori Uses and Gratifications serta Social Comparison Theory bahwa media sosial tidak hanya menyediakan hiburan dan informasi, tapi juga menjadi ruang untuk membandingkan diri. Penulis menyarankan pentingnya literasi digital sebagai langkah pencegahan dampak negatif, dan penelitian lanjutan terkait faktor mediasi seperti jenis konten, regulasi emosi, dan konsep diri.