Nik Amul Lia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pola Komunikasi Interpersonal Orang Tua Untuk Membentuk Kepribadian Da’i Pada Anak Didalam Keluarga Syaikh Muhammad Ismail Nik Amul Lia
IQTIDA : Journal of Da'wah and Communication Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/iqtida.v3i1.337

Abstract

Da'wah activities will never succeed without a da'i. While the success or failure of a da'wah is largely determined by the personality of the da'i. However, the personality of the da'i does not necessarily appear by itself but requires a long process, so if parents want to shape the personality of the da'i in their child, a certain pattern of interpersonal communication is needed to instill Islamic values in the child's personality. In terms of forming the personality of the da'i in children, the pair of shaykhs Muhammad Ismail and Shafiyyah have succeeded in making their three sons become preachers who not only have good personalities but can also preach and make changes to Indian society, one of which is Shaykh Muhammad Ilyas Al-Kandalawi. The purpose of this study was to determine the pattern of interpersonal communication between Shaykh Muhammad Ismail and Shafiyyah in shaping the personality of the preacher to Shaykh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi. The research method is library research or library research with a historical or heuristic approach and the type of research is life story. The results of the study are interpersonal communication patterns to shape the personality of the preacher, namely using the response and interactional stimulus model in the childhood phase by using the da'wah bil hal and discussion and media methods such as through books, real actions and observing the surrounding environment with the aim that Shaykh Muhammad Ilyas likes to practice -practice sunnah, expert worship, put the interests of others, intimacy and generosity, istiqomah, proud of Islam, and have anxiety about the condition of the people. Furthermore, the pattern of interpersonal communication in the maturity phase, the model used is interactional with the da'wah discussion method or mujilah which aims to develop the personality of the da'i in terms of struggling to spread Islamic teachings. Meanwhile, the discussion method was chosen to develop the creativity of Shaykh Muhammad Ilyas in finding, making and determining a particular da'wah method to overcome religious problems that occurred in his environment.
Konsep Jihad Syeikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi Dalam Tradisi Khuruj Fii Sabilillah Jama’ah Tabligh Di India Nik Amul Lia
IQTIDA : Journal of Da'wah and Communication Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/iqtida.v3i2.2146

Abstract

Jihad merupakan bagian dari usaha dakwah yang membutuhkan pengorbanan tinggi baik berupa pengorbanan jiwa, raga maupun harta untuk dapat menegakkan agama dimuka bumi ini. Namun seiring terjadinya aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok golongan tertentu membuat konsep jihad sering diidentikkan dengan qital (bunuh), harb (perang, war) bahkan irhab (terorisme). Tetapi dalam usaha dakwah untuk menumbuhkan kembali agama Islam dihati masyarakat India terutama Mewat, Syeikh Ilyas memiliki cara yang unik dengan membuat gerakan dakwah khuruj fii sabilillah. Dari gerakan dakwah ini, Syeikh Ilyas telah memberikan wajah baru dalam konsep jihad untuk membawa perubahan didalam kehidupan beragama masyarakat Mewat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui konsep jihad Syeikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi dalam tradisi khuruj fii sabilillah jama’ah tabligh di India. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-library research dengan pendekatan historis atau heuristik serta menggunakan jenis penelitian life story. Hasil penelitiannya adalah terdapat lima konsep jihad dalam tradisi khuruj fii sabilillah yakni Pertama, jihad dalam perjuangan batin untuk menundukkan elemen dasar jiwa perseorangan jama’ah yang merupakan sebuah refleksi perjuangan untuk menundukkan elemen dasar jiwa masyarakat India agar mau meninggalkan perbuatan maksiat dan perjuangan tersebut tanpa dilakukan atau melalui jalan kekerasan atau anarkis. Kedua, jihad untuk menumbuhkan keyakinan akan ganjaran yang didapat dari janji Allah bagi umat muslim yang keluar dijalan Allah SWT, pergi dari satu tempat ketempat lain untuk menghidupkan kembali agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW yakni Islam kedalam hati masyarakat India terutama yang ada di Mewat dan sekitarnya. Ketiga, jihad dengan mengorbankan jiwa, raga dan harta benda demi kepentingan gerakan dakwah khuruj fii sabilillah. Keempat, jihad untuk melatih kesabaran para jama’ah dalam menghadapi segala bentuk fitnah, cemoohan maupun diperlakukan tidak baik selama berdakwah di India, dan Terakhir yakni jihad untuk melawan kebodohan.