Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Pesan dalam Presentasi Diri Pemeran Pria Transgender pada Acara Karnaval di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur Muhammad Diak Udin
JOM Vol 5 No 3 (2024): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, September
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v5i3.5856

Abstract

Transgender is a very sensitive issue these days. However, the facts on the ground are that there is a group of men in Nganjuk who portray themselves as transgender men in a carnival event. This research aims to obtain answers to two main questions: First, What is the background of transgender male actors playing themselves at carnival events in Nganjuk; Second, What is the meaning of the message they will convey. Using descriptive qualitative method and the theoretical approach of Alfred Scutz and Max Webber's social action, the following answers were obtained: First, Because of the motive for choosing a role as a transgender man is motivated by: Wanting to take part in the carnival event in Nganjuk in a different way; Simplicity and cost-effectiveness. Second, the Motive Inorder to carnival participants want to convey a message: Restoring carnival as a medium for people's entertainment; The courage to express in public as long as it does not interfere with existing norms; and Not judging people by their external appearance alone. The two findings of this research reinforce Webber's social action theory, that every action taken is deliberate and has an important meaning for the perpetrator.
DARI STIGMA KE MEDIASI BUDAYA: KONFLIK SOSIAL SOUND HOREG DALAM WACANA MEDIA DIGITAL Muhammad Diak Udin; Muhamad Rudi Wijaya
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 2 (2026): Maret 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan media digital telah mengubah cara praktik budaya lokal diproduksi, disirkulasikan, dan dimaknai dalam ruang publik. Artikel ini mengkaji fenomena sound horeg sebagai praktik budaya populer berbasis komunitas yang mengalami eskalasi konflik sosial akibat proses pelabelan, moral panic, dan sekuritisasi budaya dalam wacana media digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sound horeg dikonstruksi sebagai persoalan sosial melalui mekanisme labeling dan moral panic, serta bagaimana media digital memediasi konflik dan stigma melalui negosiasi makna budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan desain netnografi dan analisis wacana kritis terhadap konten media sosial dan pemberitaan daring pada tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, media digital berperan ambivalen, di satu sisi memperluas visibilitas, pembentukan identitas kolektif, dan peluang ekonomi komunitas sound horeg, namun di sisi lain mengamplifikasi stigma, polarisasi wacana, dan legitimasi kontrol institusional melalui regulasi dan fatwa. Kedua, Viralitas platform mendorong dekontekstualisasi praktik budaya dan memperkuat representasi problematik yang menempatkan sound horeg sebagai ancaman ketertiban dan moral publik. Konflik sound horeg merefleksikan perebutan otoritas makna antara budaya populer, kekuasaan simbolik, dan kebijakan publik dalam masyarakat yang semakin termediasi secara digital.