Kepulauan Banda yang dikenal sebagai negeri rempah menyimpan kekayaan alam dan budaya yang beragam. Keragamana Budaya dapat ditemukan disetiap desa atau negeri. Salah satu yang paling menarik adalah tarian cakalele Kampung Adat Ratu. Kampung adat ratu merupakan kampung adat yang berbeda dengan kampung adat lainnya, karena merupakan satu-satunya kampung adat yang menunjukkan kekuatan gander, yaitu Ratu (perempuan). Olehnya itu, penelitian ini hadir untuk menelaah prosesi cakalele dan makna Kampung Adat Ratu di Desa Dwiwarna, Kecematan Banda. Penelitian ini adalah penelitian deskritif kualitatif (penelitian secara alamiah) yang bertujuan untuk sebuah tinjauan historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Kecamatan Banda Naira. Subjek penelitian ini adalah para Informan yang mengetahui proses Tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Banda Naira. Prosedur penelitian yaitu heoristik, kritik, interprestasi, dan histiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini memilih informan yang dianggap dapat dipercaya serta paham dengan maksud permasalahan yang di teliti. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian dari historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) adalah tarian Cakalele merupakan tarian perang. Pada umumnya di Kecamatan Banda adalah sebuah tarian yang bernuansa kepahlawanan, dari masing-masing Negeri Adat mempunyai Tarian Cakalele dan Tarian tersebut mempunyai berbagai model dan jenis dalam penampilannya itu berbeda-beda tetapi pada prinsipsinya sama yang membedakannya ialah dari gaya dan pertunjukkannya. Ada sebelas prosesi dalam Tarian Cakalele Tarian Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) yaitu rapat atau musyawara, putar tempat siri permisi, bawa tempat siri, persiapan alat, putar jaster/mahkota, potong bambu untuk gapura, putar tempat siri besar, potong bambu untuk Cakalele, buka puang, hari H dan tutup Kampung. Kata kunci : Tarian Cakalele, Kampung Adat, Prosesi, Makna AbstractThe Banda Islands, which are known as the land of spices, contain diverse natural and cultural riches. Cultural diversity can be found in every village or country. One of the most interesting is the cakalele dance from Kampung Adat Ratu. Ratu traditional village is a traditional village that is different from other traditional villages, because it is the only traditional village that shows the power of gander, namely Ratu (female). Therefore, this research aims to examine the cakalele procession and the meaning of the Ratu Traditional Village in Dwiwarna Village, Banda District. This research is a qualitative descriptive research (natural research) which aims to provide a historical review of the Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) Banda Naira District. The subjects of this research were informants who knew the process of the Banda Naira Traditional Village Ratu (Dwiwarna) Cakalele Dance. The research procedures are heoristics, criticism, interpretation, and histiography. The data collection technique in this research selects informants who are considered trustworthy and understand the meaning of the problem being studied. Data collected through observation and interviews. The results of research from the historical Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) are that the Cakalele dance is a war dance. In general, in Banda District, it is a dance that has a heroic nuance. Each traditional country has the Cakalele Dance and this dance has various models and types. The performance is different, but in principle it is the same, what differentiates it is the style and performance. There are eleven processions in the Cakalele Dance, the Queen's Traditional Village Dance (Dwiwarna), namely meeting or deliberation, turning the siri excuse me place, bringing the siri place, preparing tools, turning the jaster/crown, cutting bamboo for the gate, turning the big siri place, cutting bamboo for Cakalele, open Puang, D day and close Kampung. Keywords: Cakalele Dance, Traditional Village, Procession, Meaning