Abstrak:Tari Silampari Khayangan Tinggi berasal dari bahasa Palembang silam yang berarti “hilang” dan pari yang berarti “peri” khayangan berarti “udara atau langit” dan tinggi berarti “tinggi”. Sehingga disebut silampari (bidadari yang menghilang). Tari Hemba Ponga ditampilkan untuk menyambut tamu agung, disertai dengan penyuguhan tepak, yaitu tempat berbentuk kotak yang berisi lima bahan utama untuk menginang. Tepak melambangkan kehormatan kepada tamu agung yang berisi sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Tarian ini dibawakan oleh tujuh orang perempuan dan 1 laki-laki. Sekapur sirih disuguhkan oleh salah satu dari tujuh penari, yaitu pembawa tepak bersama lelaki pendamping yang menyuguhkan sirih kepada tamu agung dengan berjalan perlahan. Tata rias dalam tarian ini menggunakan makeup korektif dan busana yang digunakan baju kurung ditambahkan selendang dibahu sebagai ciri khas tarian hemba ponga dan aksesoris lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Konsep Ruang Tari Sambut Hemba Ponga dalam pengembangan Tari Sambut Silampari Khayangan Tinggi Lubuk Linggau dengan menggunakan pendekatan koreografi. Hasil analisis koreografi menunjukan bahwa Tari Sambut Silampari Khayangan Tinggi yang berdurasi 7 menit kemudian dikembangkan kedalam Tari Sambut Hemba Ponga yang berdurasi 10.30 menit. Tari ini memiliki motif gerak sederhana lalu dikembangkan menjadi gerakan yang lebih berpariasi sehingga tari sambut hemba ponga memiliki ciri khas khusus. Abstract:The Silampari Khayangan Tinggi dance comes from the ancient Palembang language which means "lost" and the dance which comes from "peri" Khayangan means "air or sky" and Tinggi means "high". so it is called Silampari (angel who disappeared). the servant ponga dance is performed to welcome the great guest, accompanied by the presentation of tepak, which is a box-shaped place containing 5 main ingredients for embracing. tepak symbolizes honor to the great guest which contains betel, lime, Gambir, areca nut, and tobacco. This dance is performed by 7 women and one man. Sekapur Sirih is performed by one of the seven dancers, namely the tepak bearer with the accompanying man who presents betel to the dignified guests by walking slowly. The make-up in this dance uses corrective make-up and the clothing used is the bajurung brackets and a scarf is added on the shoulders as a characteristic of the Hemba Ponga dance and other accessories. This study aims to determine the concept of welcome dance space ponga in the development of welcome dance Silampari Khayangan Tinggi Lubuklinggau using a choreographic approach. The results of the choreographic analysis showed that the Silampari Kayangan Tinggi welcoming dance which lasted 7 minutes was then developed into the welcoming servant ponga dance which lasted 10.30 minutes. This dance has a simple movement motif and then developed into a more varied movement so that the Welcome Dance Ponga has special characteristics.