Fenomena pariwisata terselubung berupa sex tourism dan praktik kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, telah menjadi persoalan sosial yang terus berulang dan semakin kompleks. Penelitian ini berupaya menyingkap faktor-faktor pendorong, dampak, serta implikasi dari fenomena tersebut terhadap masyarakat lokal, aspek hukum, relasi gender, dan citra pariwisata daerah. Dengan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan warga setempat, tokoh agama, pelaku usaha, dan aparat desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kawin kontrak muncul akibat tekanan ekonomi, adanya keterlibatan perantara, serta tingginya permintaan dari wisatawan asal Timur Tengah. Dampaknya meliputi eksploitasi perempuan, benturan dengan norma hukum maupun agama, serta timbulnya stigma negatif terhadap citra pariwisata Puncak. Temuan ini menegaskan pentingnya penanganan terpadu melalui regulasi yang lebih tegas, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan reposisi citra pariwisata agar kawasan Puncak tidak terus-menerus terjebak dalam label negatif.